"Apa yang kamu lakukan?" Sebuah suara keras mengagetkan Mantili.
"Kenapa kau berteriak seperti itu. membuatku kaget." Suara Mantili tak kalah keras dengan wanita berwajah ayu yang berdiri dihadapannya sekarang. "Tampangmu itu benar-benar menipu."
"Memangnya kenapa dengan tampangku?"
"Sudahlah, kamu akan semakin menyebalkan kalau aku meneruskannya."
Kinan, kira-kira seperti itulah nama wanita ini. sahabat Mantili, tinggi, putih dan... menarik. kadang kau melihat wanita cantik tapi membosankan. hanya butuh waktu lima menit untuk menyadarkanmu jika wanita itu tidak begitu cantik, tapi ada juga wanita yang menarik. wanita yang merampas sebagian waktu hidupmu untuk melihat wajahnya lebih dekat. wanita seperti ini yang disebut 'jahat' karena tanpa melakukan apapun dia sudah menyakiti banyak perasaan laki-laki.
"Jangan bilang kamu sedang mengintai laki-laki itu?" Kinan menunjuk seorang laki-laki berpakaian kemeja kotak hijau tua.
"Apa yang kamu lakukan. menunjuk orang seperti itu, dia bisa salah paham."
"Jadi bukan laki-laki itu?"
"Tentu saja... iya." Mantili menyembunyikan wajahnya yang merona. ah wanita ini, bahkan ia tersipu saat membicarakan laki-laki itu.
"Ti, jangan bilang kamu... laki-laki itu..." Kinan sepertinya terlalu berat mengatakan kenyataan.
Mantili mengangguk pelan dengan senyum manis.
"Tidak mungkin. apa kamu berencana memecahkan rekor sebagai wanita dengan cinta sepihak terbanyak."
"Apa maksudmu dengan cinta sepihak. bagaimana kalau ternyata dia juga punya perasaan yang sama denganku?"
"Kalau begitu apa kamu berencana untuk menyatakan secepatnya?"
Mantili menarik lengan Kinan, berjalan menjauh dari laki-laki itu yang mungkin saja bisa mendengar percakapan mereka. suara Kinan memang luar biasa, ia tidak bisa bicara dengan suara pelan.
"Hah apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau laki-laki itu juga tidak akan menyukaiku, apa aku harus mencintai perempuan saja." Mantili duduk dikursi panjang di koridor kelas.
"Apa kamu gila. kalau itu terjadi lupakan kau pernah mengenalku."
"Setiap kali datang ke tempat baru, kenapa kisahnya selalu terulang. apa ini hukuman. tapi hukuman atas kesalahan yang mana. seingatku, dari beberapa hubungan yang pernah aku lakukan dengan laki-laki aku adalah pihak yang selalu disakiti."
"Mungkin kamu banyak dosa pada orangtua."
"Mungkin juga, kalau mengingat berapa banyak dosa yang aku buat pada orangtuaku berarti hukuman ini tidak akan pernah berakhir. karena butuh sepanjang hayat untuk membayarnya."
"Kalau begitu berhentilah berbuat dosa pada mereka."
"Kenapa kau tiba-tiba membicarakan dosa. apa kamu sudah cukup suci untuk menilai dosa-dosa orang."
Kinan tersenyum kaku. ia menyilangkan tangan diatas kepalanya menjadi perisai dari amukan Mantili.
"Apakah menyukai seseorang sepihak membuatmu menjadi pemarah seperti itu?"
Mantili menarik nafas. koridor sepi, hanya suara ketikan tangan Kinan diatas keypad handphone yang menjadi satu-satunya tanda dunia belum berakhir.
"Kenapa begitu sepi?" Gumam Mantili.
Kinan meletakkan handphone ke dalam tas, ia lalu menarik nafas dalam sama-sama menatap kosong ke depan, pada tegel. "Hah,,, apa yang harus aku katakan, untuk membuat hatimu tidak sepi."
"Hei, apa kamu mencoba berpuisi sekarang?" Suara Mantili seolah habis karena terlalu banyak teriak, meskipun hatinya yang lebih sering teriak.
"Menjadi pujangga demi sahabat yang telah mengalami banyak kisah cinta sepihak."
"Kalimat itu menyadarkanku betapa tidak beruntungnya aku."
"Manusia selalu merasa kurang karena itulah dia selalu merasa tidak beruntung. kali ini kau melakukan dosa yang besar."
"Kau benar, mungkin sekarang Tuhan sedang menyiapkan hukuman yang lebih berat untukku karena telah menyinggung-Nya."
"Berhentilah mengeluh dan lupakan laki-laki itu sebelum kejadian yang sama terulang."
"Caranya?"
"Gunakan rumus laplace untuk tahu solusi khusus yang harus kamu gunakan. atau eigeun faktor juga bisa kamu coba."
"Apa yang sedang kamu bicarakan?"
"Membicarakan dua istilah yang aku yakin seumur hidup kamu tidak ingin mengetahuinya. Hidupmu sudah cukup rumit."
"Dan kau membuat hidupku lebih rumit."
"Kenapa aku? bukankah perasaanmu sendiri yang membuat keadaan semakin rumit."
Mantili diam. kalimat itu membuatnya berpikir sesuatu.
"Dengar, ini bukan pertama kalinya kamu terlibat dengan perasaan seperti ini. apa aku boleh mengingatkan? ini yang kelima kalinya. kamu bertemu seseorang lalu tidak berapa lama menyukainya, laki-laki itu tidak tahu perasaanmu dan kamu tidak berani mengungkapkannya. hanya berani melihat dia diam-diam dari jarak dua meter, menahan rindu sementara kamu ingin sekali menelepon adan mengirimnya sms. ini cerita drama yang sering kamu lakukan. ini semua terjadi karena kamu tidak bisa menjaga hati."
"Bagaimana aku menjaga hati? apa aku punya kuasa untuk menolak jatuh cinta dengan siapa? apa aku boleh memilih jatuh cinta dengan siapa?" Mantili menarik nafas, meredam emosi. "mungkin sebaiknya aku tidak memiliki cinta. hah,,, ini benar-benar membuatku tidak waras." terdengar benturan cukup keras saat Mantili menyenderkan punggung ke dinding.
"Apa itu amarah?" Tanya Kinan.
"Itu sakit oon."
ceritamu sungguh ....
ReplyDelete