Sunday, July 15, 2012

Three Wishes

tentu saja dia akan duduk dikursi kayu itu, jati dan cokelat. dia tidak akan melihatku karena dia duduk membelakangiku. pintu ku tutup pelan meskipun aku tahu itu tidak berarti apa-apa. langkah kakiku menderap tapi aku tahu itu juga tak berarti apa-apa. aku berhenti saat langkah ke dua puluh lima, kalau aku tidak salah hitung. di depannya tergantung bingkai berwarna emas memampangkan gambar wajah seseorang, ak tidak tahu apakah dia menyadari keberadaan foto itu, tapi sepertinya foto itu hanya pajangan yang dipaksakan tergantung disana dan berdebu.

aku menarik kursi lain lalu duduk, entah dia menyadari keberadaanku atau tidak, sepertinya itu masih tidak berarti apa-apa baginya. aku memegang pergelangan tangan, mencoba menyadarkannya dari rasa sendirian. ia mengangkat wajah, memaksakan diri tersenyum.
ia menghela nafas panjang dan berkata, "Hari ini aku baru saja ke dokter."
"Lalu apa yang dia katakan?"
"Tidak ada, hanya menyurhku untuk lebih teratur minum obat."
"Kalau begitu turuti apa yang dikatakannya."
dia menatapku, sebentar tapi dalam. aku bisa merasakan sinar kemarahan dalam mata itu tapi ia redam. aku mengerti bertahan hidup meminum obat-obatan tanpa tahu kapan berakhir adalah hal paling mengerikan. aku bisa membayangkannya meskipun aku tahu bayanganku mungkin tak semengerikan apa yang dia alaminya.
"Aku rasa, aku harus sudah mulai menyudahi ini." Suaranya lemah, ia seolah berbicara bukan padaku.
"Apa kau sudah menyerah?" Aku bisa mendengar suaraku cukup tinggi.
"Tidak," Katanya setelah lama memepertimbangkan pertanyaanku. "Atau mungkin iya." Lanjutnya.

hening. entah kenapa dadaku sakit, kepalaku pusing dan mataku panas. aku menahan beberapa ons luka dipundakku tapi aku tahu luka di pundaknya lebih besar. dia pernah menyuruhku untuk tidak menangis dihadapannya, katanya cukup Ibunya wanita yang menangis karena merasa kasihan pada hidup yang menimpanya. dan saat ini aku menangis bukan karena aku merasa iba atau simpati dengan keadaannya, tapi karena sesuatu yang tidak ia tahu. takut. aku takut kehilangannya.
"Oh iya." Ia menghela nafas dan menatap wajahku, mata kami beradu pandang dan aku tidak rela mengalihkannya pada hal lain. "Dokter bilang volume otakku semakin mengecil, itu membuatku akan segera melupakan setiap hal..." Kalimat itu menggantung.

melupakan setiap hal artinya dia juga akan melupakanku. "Aku akan jadi ingatan berjalan untukmu." Suaraku dibuat seriang mungkin.
"Bagaimana bisa?"
"I'm Genie for tou wish."
"Kalau begitu bolehkah aku minta tiga permintaa padamu?"
"Tentu saja."
dia mengeluarkan secarik kertas dari dalam skau celana dan menyerahkannya padaku.
"Itu permintaan pertamaku."
aku membuka lembaran tipis itu dan membaca tulisan yang tertera. "Jalan-jalan ke pantai." Kataku pelan.
dia menganggukkan kepala.


-To Be Continued-