Saturday, January 14, 2012

Obrolan dengan seorang 'YUDI'

kita lupakan sebentar tentang cinta, misteri dan kegalauan pikiran saya menuju pra sidang. saya tertarik menulis tentang tema sosial kali ini, semuanya terinspirasi dari seorang anak laki-laki yang mengaku dirinya Yudi. dia anak berumur sembilan tahun, putus sekolah, anak yatim dan memiliki dua adik yang masih kecil.
        awalnya saya hanya diam menunggu teman yang tengah sibuk memilih-milih baju di sebuah FO di jalan trenojoyo. saya duduk diam, karena saya hanya mengantar sekalipun saya mau belanja, jatah bekal saya sudah cekak, alhasil hanya bisa menelan ludah dan mengurungkan keinginan untuk membeli. sedang asyik melamun, Yudi datang menawarkan dagangannya. saya diam, tidak begitu suka dengan anak kecil yang merengek agar dagangannya dibeli. tapi ada yang berbeda dengan anak ini, dia duduk disamping saya sambil menyalakan rokok dengan tenang dan kemudian tidak berapa lama kepulan asap keluar dari mulutnya.
       "Teh, gak belanja?" Tanyanya tanpa melihat saya.
       saya bukannya menjawab tapi malah tersenyum miris melihat apa yang ada dihadapan saya. saat saya tanya sejak kapan dia merokok, dia jawab dengan begitu enteng sejak kecil.
       saya mengerutkan dahi berusaha mencerna jawabannya. sejak kecil? kalau begitu apakah dia sekarang merasa dirinya sudah besar atau mungkin dewasa? Yudi begitu nikmat menghisap setiap hela asap rokok yang dia hisap. aku menghembuskan nafas bersiap untuk bertanya.
       "Apa tidak pulang? bukannya sekarang udah malam?" Tanya saya ketika melihat jam yang sudah menunjukkan jam sepuluh.
       "Buat apa pulang. enak juga disini, Teh. bebas."
       "Emang Ibu-Bapak kamu gak nyari'in?"
       "Bapak udah gak ada, Ibu sibuk sama 'pelanggannya'."
       saya diam. tidak tahu apa harus percaya dengan omongan anak berambut cepak, kulit hitam mengilat karena keringat yang mengering dan binar mata keruh itu. banyak dari mereka yang malah bangga dengan keterbatasan hidup yang menyekik leher mereka seolah akan putus, mengarang cerita lebih menyedihkan agar orang-orang simpati dan memberikan apa yang mereka harapkan. saya mengeluarkan uang kertas dengan nominal sekian. saya memberikannya pada Yudi, tapi kemudian Yudi mengembalikan uang itu pada saya.
       "Saya lebih seneng Teteh beli cirengnya daripada ngasih saya uang cuma-cuma."
       saya tersenyum ketika mendengar kata-kata Yudi. apa benar orang seperti ini ada? saya hanya tahu di cerita beberapa novel saja, tentang seorang yang hidup dalam keterbatasan tapi tak meminta simpati untuk dikasihani.
       "Seriusan kamu gak mau uangnya? kalau gak mau saya masukin lagi ke dompet neh."
        Yudi dengan rokok yang tinggal setengah mengagguk yakin,,,"Kecuali teteh mau beli cireng saya, uang itu saya terima."
        akhirnya saya membeli cireng dengan harga Rp 5000 tanpa tahu cireng itu akan saya apakan setibanya di kosan karena tidak ada tempat untuk menggorengnya. "Apa kamu sangat suka merokok?" Tanya saya kemudian setelah menyimpan bungkusan cireng ke dalam tas.
       "Ya lumayanlah buat penahan lapar."
       "Emang bisa rokok buat nahan lapar?"
       "Bisa saya mah teh. kadang saya kuat seharian cuma ngerokok."
       "Ah bohong kamu. tapi kalaupun iya, gimana juga kamu harus makan. tar sakit loh."
       Yudi tertawa. aku tidak, lagipula apa yang aku katakan bukan banyolan.
       "Temen2 teteh juga pasti suka ngerokok ya?"
       "Mayoritas iya. kadang mereka bisa ngehabisin satu bungkus dalam sehari. gelo kan?"
       Yudi tertawa lagi. "kalau pacar teteh?"
      well ditanya tentang yang satu itu saya benar-benar bungkam. "Hah,, apa kamu pernah pacaran?"
      Yudi menggeleng. "Saya belum pernah pacaran, tapi saya mau nyoba."
      "Eh,, jangan! masih kecil. lagian punya pacar gak enak. nyakitin tauk."
      "Masa teh? temen2 saya biasanya ngamen suka sama pacarnya, mereka sering ciuman di depan saya."
       "Ya kamu jangan mau kaya gitu. itu gak baik. nih dengerin, pacaran itu bikin kamu kelaparan padahal kamu udah makan banyak, gak bisa tidur padahal kamu tunduh pisan. pacaran itu pokokna mah teu enakeun lah. cig we cobain."
       "Tadi ceunah ulah."
        "Eh iya ketang. gak boleh."
       teman saya tidak kemudian keluar sambil membawa beberapa kantong plastik berisi baju yang ia beli. dia mengajak saya untuk pulang. saya harus mengakhiri obrolan dengan yudi.
       dia, entah kapan saya akan bertemu dengannya lagi. tapi ketika meninggalkan tempat itu, ada rasa haru bercampur sedih yang coba saya tahan. apakah anak itu bisa membaca? atau sekedar menulis namanya. apa dia mampu?
       Yudi berbeda. dia membuat saya memberikan uang itu tulus tanpa berniat pamrih. dia membuat saya mensyukuri apa yang saya miliki saat ini. sahabat, keluarga, dan orang-orang yang menyukai ataupun membenci.

Tuesday, January 10, 2012

MISTERI YANG MELEGENDA DI LAUTAN INDONESIA



kali ini saya tidak akan menulis tentang cinta. sedikit membosankan harus menulis tema yang sama dalam beberapa bulan ini. ya wajarlah, saya sedang dalam masa labil beberapa bulan belakang.
ditambah setumpuk tanggungjawab yang menuntut segera diselesaikan di kuliah. saya tambah galau saudara-saudara.(Hahaha)
         baiklah, mari kembali pada inti. tentu sebagian mayoritas penduduk negara kesatuan republik indonesia merdeka hore tahu tantang cerita ratu laut pantai kidul? saya, kamu, kalian, atau mereka yang tidak sempat membaca blog ini tahu tentang cerita rakyat yang terus hidup selama berabad-abad (kalau tidak salah). kalian harus percaya sebelum menulis tentang beliau, saya melakukan beberapa ritual, salah satunya minum susu di pagi hari dan langsung mandi meskipun saya tidak biasa mandi pagi hari. (Teu nyambung).
         beberapa hari yang lalu, mungkin tepatnya seminggu yang lalu, saya dan beberapa teman liburan ke sebuah laut yang terletak di ujung sukabumi, yang biasa dipanggil oleh orang-orang laut selatan. beberapa jam sebelum saya dan teman-teman tiba di laut itu, diberitakan lima pemuda berasal dari jakarta tenggelam terbawa arus ombak yang kebetulan pada hari itu laut tengah pasang. satu meninggal, dua kritis dan dua orang lagi mengalami shock. kejadian itu terjadi pada sore hari, beberapa jam sebelum perayaan malam tahun baru, kemudian di pagi hari ketika saya dan teman-teman baru terbangun dan merasakan pegal yang luarbiasa di seluruh badan karena harus tidur di mobil yang penuh sesak oleh barang bawaan, berita tentang orang yang meninggal karena tenggelam merebak di beberapa kalangan termasuk kami.
        kemudian ramai hampir semua orang membicarakan sosok yang saya kenal sebagai Nyai Roro Kidul (Tangan saya bergetar saat menulis nama itu. magis). ada yang mengatakan orang-orang yang meninggal itu karena beliau (Baca:Nyai Roro Kidul) meminta tumbal. sosok yang digambarkan memiliki pesona luar biasa dengan keanggunan setingkat bidadari kahyangan ini menurut beberapa sumber adalah seorang bidadari bernama Dewi Nawang Wulan yang pernah akan diperistri oleh jaka Tarub, ada juga yang mengatakan jika beliau adalah seorang puteri di kerajaan tanah jawa, tapi ada juga yang bilang kalau beliau merupakan puteri dari seorang raja batak.
        well, siapapun beliau mungkin tidak terlalu penting. hal yang paling membuat saya dan mungkin sebagian besar penduduk negara kesatuan republik indonesia raya merdeka hore penasaran adalah kenapa tiba-tiba seorang bidadari, atau puteri atau mungkin entah siapa sebenarnya beliau, menjadi hal yang magis dan terkesan menakutkan?
       tapi akan selalu ada penjelasan yang lebih masuk akal kenapa banyak orang yang meninggal tenggelam di laut pantai selatan. saya hanya menyarankan, bagi orang-orang yang tergiur mau berenang sementara kemampuan renangnya masih cetek, sebaiknya diam di pinggir pantai saja meresapi tiupan angin yang menjadi dingin, menatap kagum ketika langit dan laut seperti menyatu.
       

Friday, January 6, 2012

Untuk Seseorang yang Saya Panggil Flow (Alga Dwi Egantara)

orang ini, saya tidak paham bagaimana cara dia berpikir tentang pershabatan. apakah hanya sebuah hiburan tempat dimana kau menemukan kegembiraan, atau sekedar tempat berteduh ketika hujan, setelah reda kemudian pergi begitu saja. entahlah,,, meskipun ingin memahaminya tapi sepertinya dia tidak mengijinkan saya untuk paham.
         seperti rumput bergoyang yang tak mampu berdiri tegak ketika angin berniup, begitulah apa yang saya pikirkan tentang dirinya. ia seperti tak memiliki pendirian, seolah tak mampu berdiri tegak meskipun hanya sekedar angin kecil meniupnya. atau mungkin dia memiliki pendirian, hanya saja terlalu sulit untuk dipahami orang-orang disekitarnya. atau mungkin pendirian itu tidak masuk pad pemahamanku.
       dia datang padaku sebagai seorang ksatria berjubah panjang dengan dada berlapis besi dan tameng di tangan kiri sedang tongkat berujung pisau runcing di tangan kanan. seperti seorang Jengis Khan yang gagah di atas kuda tumpangannya, ia tampak begitu lihai menipu musuh yang berniat membunuhnya. Flow, begitu saya memanggilnya, adalah Jengis Khan versi saya. dia melindungi hati saya dari kepicikan hidup yang berusaha saya sangkal. dia mampu mengalihkan kesedihan menjadi sebuah harapan baru. bersamanya, memiliki teman seperti dirinya, tak pernah saya sesali.
      tapi sekarang, seperti orang-orang mencaci para pembunuh yang menghabisi nyawa seseorang karena hal sepele, begitulah saya. tampak tolol dan seperti binatang acuan yang di perintah ini dan itu tanpa mengeluh. saya mencaci diri sendiri dan dirinya. bukan karena pertemanan kami, tapi karena sesuatu yang saya tidak pernah tahu apa.
      ketika banyak orang meributkan hal-hal tetek bengek mengenai masalah negara dan pejabat-pejabatnya yang korup, saya menutup telinga dan diributkan oleh perkara lebih sepele dan remeh temeh dibanding hal lain yang lebih sepele dan remeh temeh. saya tidak mengenalnya, masih tidak tahu siapa dia sampai kemudian dia menjadi orang asing. dan akhirnya kami menjadi orang asing satu sama lain.
    saya masih menganggapnya teman, seorang sahabat yang baik. tapi sekarang dia tak lebih dari seorang manusia yang berjalan di samping saya tanpa saya mengenalnya. dia bukan siapa-siapa sekarang, sekedar orang lain yang tidak saya kenal.
     maaf kalau tulisan ini terlalu kasar, tapi kalau saja kamu berpikir jika apa yang kamu lakukan pada saya, itu lebih kasar.