Monday, November 14, 2011

Bagian 5


                Hari hampir pagi. Fajar mulai memperlihatkan nyalanya. Dreamer bangun dari tidur, Ia membuka selimut yang menutupnya sampai leher lalu duduk. Diam. Mendengarkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang. Dengan nada getir ia berkata lirih, “Selamat ulang tahun… Flow.” Dan membiarkan air hangat membasahi pipinya.
                Sebenarnya ia ingin memberikan sesuatu. Sesuatu yang bisa dikenang yang sudah lama ia sipakan jauh hari sebelum hari ulang tahun Flow. Tapi lagi-lagi semua pikiran itu lumpuh kemudian menguap dan berharap segera akan dilupakan. Tidak ada yang harus dikenang, itu lebih baik. Dreamer mengusap airmata dengan ujung lengan bajunya cukup keras. Ia tidak suka dengan keadaan ini, ketika ia merasa bukan lagi wanita kuat yang baik-baik saja tanpa orang lain. Kebergantungan seperti ini yang paling menakutan bagi Dreamer.
              Hari ini menjadi hari istimewa bagi Flow, terlepas dari Flow menyukai perayaan ulang tahun atau tidak. Dreamer tersenyum getir ketika ia membayangkan wanita lainlah yang dipilih Flow untuk berbagi kebahagiaan bersamanya. Bukan Dreamer.
              Sekeping kenangan tentang ia dan Flow kembali memenuhi kompartemen pikirannya. Satu-satu penggalan itu merangkai sebuah alur cerita. Terpampang dengan jelas sperti layar lebar yang mempertontonkan setiap adegan yang pernah dilewatinya dengan laki-laki berkulit sawo matang itu.
            “Akhir bulan ini aku ulang tahun,” Ucap Flow setengah berseru melawan kerasnya suara mesin motor yang ia kendarai disuatu malam dipertengahan bulan sepuluh.
            “Terus…”
            “Gak, cuma ngasih tahu aja.”
            Dreamer tersenyum tipis. Setelah mendengar itu, dalam otaknya bermunculan beberapa rencana yang ingin ia berikan untuk Flow. Rencana yang Flow tidak perlu tahu. “Ok,,,” Katanya pendek kemudian.
            “Ok kamu mau ngasih aku hadiah maksudnya?”
             Dreamer tidak menjawab. Bukan kejutan kalau ia memberitahu Flow sekarang, pikirnya. Maka ia membiarkan pertanyaan Flow tak pernah terjawab… bahkan sampai sekarang.
            Diamati dan dirabanya lagi setiap jejak kenangan yang pernah mereka lalui. Tidak banyak cerita memang. Kisah singkat tapi untuk menceritakannya seolah kau tak akan bisa berhenti. Seolah kau membutuhkan lebih banyak tenaga dan waktu untuk menuliskannya dalam ratusan lembar kertas. Tanpa sengaja Dreamer melihat tiga lembar kertas ukuran A4 dengan tulisan HAPPY B’DAY FLOW tergeletak disamping sebuah dus besar disalah satu sudut kamarnya. Dreamer mengambil ketiga lembar kertas itu melihatnya dengan nanar. Tulisan itu tak pernah sampai pada Flow dan tergeletak disana menunggu untuk dibuang. Bagi sebagian orang perkara mencintai adalah hal sederhana, sementara bagi Dreamer , mencintai memiliki kerumitan yang aneh.
@@@

Bagian 4


          Dreamer kembali. kembali ke tempat dimana ia akan melihat flow dari jarak dekat tapi tak mampu mendekat. ia duduk di atas dinding setinggi dada di lantai paling atas kosannya. Sendiri. Ia melamun menatap genteng-genteng rumah yang terlihat kecil dibawahnya. Di sisi ruang benaknya, dreamer menyadari satu hal tidak pernah lepas dari pikirannya, menusuk dari dalam secara perlahan. Flow.
          Dreamer duduk menengadah. Diam. Ia menikmati angkasa luas, melihat bintang terang yang tertutup awan mendung. Melihat sesuatu yang takkan mampu ia gapai. Selamanya. Angin bertiup menghembuskan dingin pada kulit dreamer, tapi ia masih ingin disini, belum mau beranjak. Samar dari kejauhan terdengar lagu yang pernah ia dengar saat bersama flow, dan ingatan itu semakin tegas ketika ia memejamkan mata, meredam perih yang keluar tiba-tiba. Pelan, hanya untuk didengar dirinya sendiri, dreamer mulai bersenandung.

You can take everything l have/you can break everything I am/like l am made of glass/like l am made of paper/go on try to tear me down/l will be rising from the ground/ like a skycraper/like a skycraper…

          Di akhir lagu suaranya bergetar menahan getir. Lidahnya terasa pahit, kelopak matanya memanas. Ia tak mampu lagi melanjutkan nyanyiannya.

@@@

Saturday, November 12, 2011

Bagian 3


Pagi berikutnya semua sibuk. dreamer bangun sangat pagi, diluar kebiasaannya. hari ini ia disuruh ayahnya untuk membantu dipasar. jalanan dengan dua jalur itu padat merayap ditambah suara klakson kendaraan menambah kebisingan pagi ini. besok hari raya kurban, wajar saja begitu banyak orang berbelanja dan rela menghabiskan uang beratus-ratus ribu, karena perayaan ini berlangsung hanya sekali dalam setahun.
          ayahnya mengupas kelapa di gudang kemudian seorang wanita bertubuh pendek dan berwajah masam mengerik disalah satu sudut gudang yang miskin cahaya , ibu mencuci singkong mentah ditempat lain ditemani seorang laki-laki ceking hitam dengan mulut tanpa henti bicara. tangan laki-laki itu sibuk mengeluarkan kelapa dari mesin parutan dengan sendok cukup besar yang terbuat dari kayu dengan gaya sedikit tak wajar, salah satu tangannya pengkong ke belakang dengan pundak bongkok. tapi wajahnya ceria, ia tertawa lebar, seolah hidupnya ia habiskan hanya untuk tertawa. laki-laki ceking dan wanita berwajah masam itu adalah suami istri, mereka bekerja pada ayah dreamer sudah hampir setahun lebih. 

Friday, November 4, 2011

Bagian 2

dreamer pulang. pulang ke sebuah tempat dimana ia akan merasa aman, setidaknya. meskipun tempat itu pernah dirasa asing karena ketidakharmonisan jalan pikiran antara dreamer dan orangtuanya beberapa minggu lalu. sepanjang jalan dreamer diam, tidak mendengarkan suara apapun selain bising kendaraan yang melaju disekitar mobil travel yang ia tumpangi. ada enam orang penumpang dalam mobil termasuk sopir, tapi tak ada satupun dari mereka yang diam. seluruhnya bungkam, dan dreamer bergeming menatap bukit-bukit tak terlalu tinggi yang seolah berjalan menjauh.
          pikiran dreamer mengawang. terlintas dalam perjalanan waktu dipikirannya tentang sesuatu, peristiwa beberapa bulan yang lalu ketika ibu menentang rencananya untuk kuliah S2 d luar negeri.
          "Kenapa harus jauh-jauh ke luar negeri. di sini juga maish banyak sekolah yang bagus." Kata Ibu suatu hari ditelepon.
           "Buat pengalaman bu, lagipula kan aku udah biasa jauh. kenapa sekarang jadi masalah aku sekolah jauh."
           Ibu menarik nafas dalam, suaranya bergetar diujung telepon, kentara ia tengah menahan tangis. "Luar negeri itu bukan bandung-jakarta yang bisa naik mobil dengan waktu sebentar. gimana kalau kamu disana sakit, siapa yang merawat?" akhirnya wanita paruh baya itu tak mampu menahan airmatanya.
           "Aku kan kuat bu, selama kuliah aja aku belum pernah sakit, iya kan?" dreamer menghibur hati ibunya yang mendung. dreamer sadar betapa sayang ibu padanya, tapi ia juga tidak mau mundur. "Aku kan belum pergi bu. lagipula proposal untuk pengajuan beasiswanya juga belum aku bikin. ini kan baru rencana."
           "Tapi tetep aja denger kamu mau kuliah ke luar negeri bikin ibu gak enak hati."
           "Kita liat nanti ya, sekarang biarin aku berusaha dulu buat dapat beasiswa S2 keluar negeri, kalau gak keterima aku gak pergi."
           "Kalau keterima,,, berarti,,, kamu pergi?"
dreamer diam. ia tahu ibunya pasti sudah tahu jawaban yang akan didengarnya.
            "Kamu itu selalu bilang gak mau membebani abah, tapi sekarang malah mau S2 keluar negeri. pake beasiswa sekalipun tetap aja biayanya pasti lebih mahal dari nyekolahin S1 kamu sekarang." suara ibu terdengar emosi.
           dreamer diam. seperti ada yang menohok ulu hatinya. kata-kata ibu, kalimat itu, tidak pernah ia duga akan keluar dari mulut wanita yang paling diidolakannya. bagaimana bisa ibu berpikir begitu dangkal tentang keinginannya sekolah S2 ke luar negeri. dreamer merasa semuanya berakhir. gelap.
          dreamer menahan sesak. dukungan yang sangat ia butuhkan ternyata tidak berada disana, dalam diri ibu. ia malah menemukan kebuntuan atas tentangan ibu pada rencananya. mendapatkan beasiswa ke luar negeri bukanlah hal mudah, karena itu dreamer berpikir untuk berbagi beban dengan ibu, wanita yang akan selalu berdiri digarda terdepan membelanya, tapi kali ini ia menuduh dirinya sebagai beban meskipun kenyataannya dreamer sendiri tidak menyangkal jika sampai saat ini ia masih menjadi beban bagi kedua orangtuanya. tubuh dreamer seperti didorong air bah, dadanya sesak. pelupuk matanya menghangat dan wajah kecil itu berubah merah.
          bayangan dalam pikirannya itu menguap. ia sadar ketika itu flow lah yang mengangkatnya saat orang terdekat tak mampu memberikan rasa aman pada dreamer. flow menghiburnya, bukan dengan kata-kata bijak atau menempatkan diri sebagai orang paling benar dan dewasa, tapi dengan sesuatu yang kemudian dreamer tahu jika hanya dengan keberadaan flow saja itu sudah cukup membantu.dreamer merindukannya, dan selama beberapa hari ke depan ia akan kehilangan raut wajah itu, garis senyum lembut itu, dan sosok tegap dengan tinggi rata-rata itu.
         mobil travel menepi didepan sebuah mall, dreamer turun menyampirkan tas dipundak kiri dan tas kecil  ia jinjing. dreamer langsung naik mikrolet segera setelah ia turun dari mobil travel untuk sampai di rumahnya yang terletak tidak jauh dari pusat pemerintahan negara kepulauan terbesar ini. hanya butuh waktu sepuluh menit saja untuk sampai di rumah ditambah dua puluh menit macet. penderitaan warga kota besar adalah kau akan terjebak dalam mobil selama berjam-jam untuk sampai ditempat yang seharusnya bisa ditempuh hanya dalam waktu tiga puluh menit.
         dreamer sampai. ia melihat ke sekeliling, ada sungai yang mengalir dengan air berwarna hitam, seketika bau menyengat memenuhi lubang hidung. flow, muncul dalam pikiran diamnya. tapi kesinilah ia pergi, menghindar dari flow. salah. bukan menghindar dari flow, tapi dari perasaannya sendiri.
         dreamer berhenti ketika dua sosok pria dan wanita sibuk mengangkat keranjang berisi potongan kelapa. ia mengenali kedua sosok itu, dengan wajah dibuat sedemikian riang ia menghampiri mereka. "Abah, Ibu!" Seru dreamer dengan senyum lebar seraya mencium tangan sosok pria dan wanita yang ia panggil dengan abah dan ibu itu. kedua sosok itu adalah orangtua dreamer. ibu tersenyum dibalik wajah lelahnya begitupun abah yang tubuhnya telah ringkih karena usia.
          ditempat inilah orangtua dremaer bekerja sebagai pedagang kelapa. mereka bahu membahu mencari uang untuk menyekolahkan dreamer dan kedua adiknya. mimpi abahnya amatlah sederhana, ia hanya ingin memanusiakan anak-anaknya dengan pendidikan yang layak. tidak perlu menjadi kaya, hidup sederhanapun tidak masalah asal mereka mampu sekolah tinggi. karena itulah, laki-laki yang tidak tahu tanggal lahirnya itu begitu semangat bekerja dan menyekolahkan ketiga putrinya itu. dreamer diam, beberapa saat melihat keisbukan kedua orangtuanya.      
          "Bagaimana kuliahmu?" Tanya Abah tanpa menghentikkan kesibukannya bekerja.
         dreamer menarik nafas dalam sebelum berkata, "Tidak begitu baik. ada masalah yang membuat semesterku bertambah." ia menyimpan tas disebuah bangku panjang didalam tempat yang mereka sebut gudang. disanalah tempat abah menyimpan pasokan kelapa.
           "Jadi gak jadi lulus tahun ini.?" Tanya abah lebih pada penegasan.
dreamer mengangguk tanpa berani melihat mata lelah laki-laki baya itu.
          hening. ibu hanya tersenyum penuh arti sementara abah mengangkat keranjang lainnya yang kemudian ia cuci dan dimasukkan ke keranjang lain.
          saat ini dreamer merindukan flow, ia membutuhkan flow untuk berpegang ketika ia merasa tak cukup kuat berdiri menjadi manusia tak berguna. kalimat ibu yang menyakitkan ketika telepon terakhir itu, terngiang begitu jelas menyakiti telinga dreamer. dreamer melihat ke gedung yang tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri, gedung lantai tiga dengan arsitektur sederhana itu menjadi tujuan dreamer untuk berharap banyak pada hidup, pada mimpinya sebagai penulis. digedung itulah, naskah novel yang ia kirim ke salah satu perusahaan penerbit buku terbesar ia kirimkan. mungkin saat ini tengah tergeletak disalah satu sudut ruangan gelap tak berpenghuni, atau jika beruntung naskah itu tengah berada ditangan seorang editor dan tinggal menunggu kesempatan untuk diterbitkan. harapan itu menggelembung, memenuhi setiap celah sel dalam kalbu dreamer. dan sosok flow tengah tersenyum semakin jelas memenuhi hitam-hitam matanya.

Wednesday, November 2, 2011

Bagian 1

wanita berambut sebahu itu diam dibawah pohon yang ia jadikan sebagai tempat menyendiri. tidak ada yang dilakukannya kecuali menarik nafas dalam berkali-kali. ada sesuatu yang menyesakkan dadanya, sesuatu itu datang tanpa ia sadari sejak dua minggu lalu. wanita berumur 20 tahunan lebih itu merana, ia merasakan sesuatu yang aneh menjalari kalbunya seperti tangan-tangan tak kasat mata. ia coba menahan, tapi tak mampu. ia mnegutuk, tapi tak bisa. ia menangis, tapi terlalu malu memperlihatkan airmata bahkan untuk dirinya sendiri, dan akhirnya ia hanya duduk terantuk dibawah pohon dengan daun tak begitu rindang. setidaknya, ditempat ini ia tenang meskipun hanya diam.
          bagaimana kalau kita sebut saja wanita ini dengan nama 'dreamer', sesuai dengan kebiasaannya yang selalu bermimpi. ia pemimpi ulung dengan ratusan keinginan yang menurut kebanyakan orang tidak masuk akal, tapi baginya apa yang tidak masuk akal jika ada begitu banyak orang yang sudah menjadi apa yang dia inginkan. misalnya, menjadi penulis hebat yang menjual lebih dari satu milyar eksemplar buku mengalahkan penjualan buku harry potter, tidak ada yang salah, tentu saja tidak. kalau JK Rowlingpun mampu menjual buku sebanyak 400 juta eksemplar kenapa ia tidak bisa. dreamer dan Rowling sama-sama manusia, mereka menghirup udara yang sama dan melakukan hal-hal yang banyak dilakukan oleh manusia, pikirnya. ia hanya butuh sedikit keberuntungan saja sisanya adalah kerja keras dan yakin.