Hari hampir pagi. Fajar mulai memperlihatkan nyalanya. Dreamer bangun dari tidur, Ia membuka selimut yang menutupnya sampai leher lalu duduk. Diam. Mendengarkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang. Dengan nada getir ia berkata lirih, “Selamat ulang tahun… Flow.” Dan membiarkan air hangat membasahi pipinya.
Sebenarnya ia ingin memberikan sesuatu. Sesuatu yang bisa dikenang yang sudah lama ia sipakan jauh hari sebelum hari ulang tahun Flow. Tapi lagi-lagi semua pikiran itu lumpuh kemudian menguap dan berharap segera akan dilupakan. Tidak ada yang harus dikenang, itu lebih baik. Dreamer mengusap airmata dengan ujung lengan bajunya cukup keras. Ia tidak suka dengan keadaan ini, ketika ia merasa bukan lagi wanita kuat yang baik-baik saja tanpa orang lain. Kebergantungan seperti ini yang paling menakutan bagi Dreamer.
Hari ini menjadi hari istimewa bagi Flow, terlepas dari Flow menyukai perayaan ulang tahun atau tidak. Dreamer tersenyum getir ketika ia membayangkan wanita lainlah yang dipilih Flow untuk berbagi kebahagiaan bersamanya. Bukan Dreamer.
Sekeping kenangan tentang ia dan Flow kembali memenuhi kompartemen pikirannya. Satu-satu penggalan itu merangkai sebuah alur cerita. Terpampang dengan jelas sperti layar lebar yang mempertontonkan setiap adegan yang pernah dilewatinya dengan laki-laki berkulit sawo matang itu.
“Akhir bulan ini aku ulang tahun,” Ucap Flow setengah berseru melawan kerasnya suara mesin motor yang ia kendarai disuatu malam dipertengahan bulan sepuluh.
“Terus…”
“Gak, cuma ngasih tahu aja.”
Dreamer tersenyum tipis. Setelah mendengar itu, dalam otaknya bermunculan beberapa rencana yang ingin ia berikan untuk Flow. Rencana yang Flow tidak perlu tahu. “Ok,,,” Katanya pendek kemudian.
“Ok kamu mau ngasih aku hadiah maksudnya?”
Dreamer tidak menjawab. Bukan kejutan kalau ia memberitahu Flow sekarang, pikirnya. Maka ia membiarkan pertanyaan Flow tak pernah terjawab… bahkan sampai sekarang.
Diamati dan dirabanya lagi setiap jejak kenangan yang pernah mereka lalui. Tidak banyak cerita memang. Kisah singkat tapi untuk menceritakannya seolah kau tak akan bisa berhenti. Seolah kau membutuhkan lebih banyak tenaga dan waktu untuk menuliskannya dalam ratusan lembar kertas. Tanpa sengaja Dreamer melihat tiga lembar kertas ukuran A4 dengan tulisan HAPPY B’DAY FLOW tergeletak disamping sebuah dus besar disalah satu sudut kamarnya. Dreamer mengambil ketiga lembar kertas itu melihatnya dengan nanar. Tulisan itu tak pernah sampai pada Flow dan tergeletak disana menunggu untuk dibuang. Bagi sebagian orang perkara mencintai adalah hal sederhana, sementara bagi Dreamer , mencintai memiliki kerumitan yang aneh.
@@@