seseorang dengan janggut tipis bibir hitam tinggi tidak begitu semampai tersenyum padaku. baju flanel abu motif kotak dengan celana jeans hitam belelnya membuat ia semakin tidak nampak bagus. aku yakin, ia bukan seseorang yang tidak akan membuatku jatuh cinta. jadi, buat apa aku harus takut untuk dekat dengannya.
ia menghampiriku kemudian melepas helm yang menutupi kepalanya, lalu duduk. asap tipis keluar dari mulutnya seperti asap kereta keluar dari cerobong asapnya yang kecil. aku sibuk membaca novel Dee lestari yang membuatku tak bisa melepas perhatian ke yang lain, bahkan pada laki-laki ini. dia tidak berusaha menyapaku hanya kata-kata ini yang terlontar dari mulutnya "Wah, balaga lah yang bermimpi jadi penulis". aku sedikit menolehkan wajah kemudian tersenyum tipis padanya.
sebut saja laki-laki ini dengan Buta, setidaknya yang aku tahu dia senang dinamai buta. Hahaha... aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu, belum setahun barangkali.
kami dekat, tapi tidak berencana untuk menjadi lebih dekat. dia orang spontan dan tidak memrlukan waktu berpikir untuk memutuskan setiap hal termasuk menjalin sebuah komitmen dengan wanita, sementara aku sistematik, aku tidak bisa memutuskan hal tanpa berpikir.