Wednesday, October 26, 2011

Eps.1

seseorang dengan janggut tipis bibir hitam tinggi tidak begitu semampai tersenyum padaku. baju flanel abu motif kotak dengan celana jeans hitam belelnya membuat ia semakin tidak nampak bagus. aku yakin, ia bukan seseorang yang tidak akan membuatku jatuh cinta. jadi, buat apa aku harus takut untuk dekat dengannya.
ia menghampiriku kemudian melepas helm yang menutupi kepalanya, lalu duduk. asap tipis keluar dari mulutnya seperti asap kereta keluar dari cerobong asapnya yang kecil. aku sibuk membaca novel Dee lestari yang membuatku tak bisa melepas perhatian ke yang lain, bahkan pada laki-laki ini. dia tidak berusaha menyapaku hanya kata-kata ini yang terlontar dari mulutnya "Wah, balaga lah yang bermimpi jadi penulis". aku sedikit menolehkan wajah kemudian tersenyum tipis padanya.
sebut saja laki-laki ini dengan Buta, setidaknya yang aku tahu dia senang dinamai buta.  Hahaha... aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu, belum setahun barangkali.
kami dekat, tapi tidak berencana untuk menjadi lebih dekat. dia orang spontan dan tidak memrlukan waktu berpikir untuk memutuskan setiap hal termasuk menjalin sebuah komitmen dengan wanita, sementara aku sistematik, aku tidak bisa memutuskan hal tanpa berpikir.

si buta dengan mudah menjadi sahabatku. aku bercerita banyak hal tentang mimpi, cinta dan hidup.
aku menutup buku dan meliht wajhanya lebih detail. sama seperti biasa, wajahnya yang bulat dan besar dengan bulu mata lentik, selalu mampu membutaku menatapnya lama tanpa ada getaran apapun dalam hati hanya sekedar.... kagum. aku menghela nafas membuka pembicaraan dengannya.
aku jarang bertemu dengannya jika bukan dikampus, dan seperti inilah setiap kali kami bertemu. berbicara terus, terus, terus, terus sampai rasanya tak ada cairan yang tersisa ditenggorokanmu.
aku bukan jenis manusia yang senang berbicara, tapi entah kenapa mendengarkannya bercerita  membuatku tertarik.

kedua pipi buta kemong ketika batang rokok yang jepit diantara telunjuk dan jari tengahnya ia hisap sekuat tenaga. tidak berapa lama kemudian asap yang membuat paru-paruku sedikit sesak itu keluar dan menutupi hampir seluruh wajahny dari penglihatanku.
dia bercerita. aku mendengarkan. hanya menganggukkan kepala sekali-kali ketika ia berhenti berbicara seolah meneliti aku memerhatikannya atau tidak.
si buta menjdi sahabatku. dan padanyalah aku melepas jubah ketegaranku dengan cerita hidup tak seinda sepertinya.  

No comments:

Post a Comment