dreamer pulang. pulang ke sebuah tempat dimana ia akan merasa aman, setidaknya. meskipun tempat itu pernah dirasa asing karena ketidakharmonisan jalan pikiran antara dreamer dan orangtuanya beberapa minggu lalu. sepanjang jalan dreamer diam, tidak mendengarkan suara apapun selain bising kendaraan yang melaju disekitar mobil travel yang ia tumpangi. ada enam orang penumpang dalam mobil termasuk sopir, tapi tak ada satupun dari mereka yang diam. seluruhnya bungkam, dan dreamer bergeming menatap bukit-bukit tak terlalu tinggi yang seolah berjalan menjauh.
pikiran dreamer mengawang. terlintas dalam perjalanan waktu dipikirannya tentang sesuatu, peristiwa beberapa bulan yang lalu ketika ibu menentang rencananya untuk kuliah S2 d luar negeri.
"Kenapa harus jauh-jauh ke luar negeri. di sini juga maish banyak sekolah yang bagus." Kata Ibu suatu hari ditelepon.
"Buat pengalaman bu, lagipula kan aku udah biasa jauh. kenapa sekarang jadi masalah aku sekolah jauh."
Ibu menarik nafas dalam, suaranya bergetar diujung telepon, kentara ia tengah menahan tangis. "Luar negeri itu bukan bandung-jakarta yang bisa naik mobil dengan waktu sebentar. gimana kalau kamu disana sakit, siapa yang merawat?" akhirnya wanita paruh baya itu tak mampu menahan airmatanya.
"Aku kan kuat bu, selama kuliah aja aku belum pernah sakit, iya kan?" dreamer menghibur hati ibunya yang mendung. dreamer sadar betapa sayang ibu padanya, tapi ia juga tidak mau mundur. "Aku kan belum pergi bu. lagipula proposal untuk pengajuan beasiswanya juga belum aku bikin. ini kan baru rencana."
"Tapi tetep aja denger kamu mau kuliah ke luar negeri bikin ibu gak enak hati."
"Kita liat nanti ya, sekarang biarin aku berusaha dulu buat dapat beasiswa S2 keluar negeri, kalau gak keterima aku gak pergi."
"Kalau keterima,,, berarti,,, kamu pergi?"
dreamer diam. ia tahu ibunya pasti sudah tahu jawaban yang akan didengarnya.
"Kamu itu selalu bilang gak mau membebani abah, tapi sekarang malah mau S2 keluar negeri. pake beasiswa sekalipun tetap aja biayanya pasti lebih mahal dari nyekolahin S1 kamu sekarang." suara ibu terdengar emosi.
dreamer diam. seperti ada yang menohok ulu hatinya. kata-kata ibu, kalimat itu, tidak pernah ia duga akan keluar dari mulut wanita yang paling diidolakannya. bagaimana bisa ibu berpikir begitu dangkal tentang keinginannya sekolah S2 ke luar negeri. dreamer merasa semuanya berakhir. gelap.
dreamer menahan sesak. dukungan yang sangat ia butuhkan ternyata tidak berada disana, dalam diri ibu. ia malah menemukan kebuntuan atas tentangan ibu pada rencananya. mendapatkan beasiswa ke luar negeri bukanlah hal mudah, karena itu dreamer berpikir untuk berbagi beban dengan ibu, wanita yang akan selalu berdiri digarda terdepan membelanya, tapi kali ini ia menuduh dirinya sebagai beban meskipun kenyataannya dreamer sendiri tidak menyangkal jika sampai saat ini ia masih menjadi beban bagi kedua orangtuanya. tubuh dreamer seperti didorong air bah, dadanya sesak. pelupuk matanya menghangat dan wajah kecil itu berubah merah.
bayangan dalam pikirannya itu menguap. ia sadar ketika itu flow lah yang mengangkatnya saat orang terdekat tak mampu memberikan rasa aman pada dreamer. flow menghiburnya, bukan dengan kata-kata bijak atau menempatkan diri sebagai orang paling benar dan dewasa, tapi dengan sesuatu yang kemudian dreamer tahu jika hanya dengan keberadaan flow saja itu sudah cukup membantu.dreamer merindukannya, dan selama beberapa hari ke depan ia akan kehilangan raut wajah itu, garis senyum lembut itu, dan sosok tegap dengan tinggi rata-rata itu.
mobil travel menepi didepan sebuah mall, dreamer turun menyampirkan tas dipundak kiri dan tas kecil ia jinjing. dreamer langsung naik mikrolet segera setelah ia turun dari mobil travel untuk sampai di rumahnya yang terletak tidak jauh dari pusat pemerintahan negara kepulauan terbesar ini. hanya butuh waktu sepuluh menit saja untuk sampai di rumah ditambah dua puluh menit macet. penderitaan warga kota besar adalah kau akan terjebak dalam mobil selama berjam-jam untuk sampai ditempat yang seharusnya bisa ditempuh hanya dalam waktu tiga puluh menit.
dreamer sampai. ia melihat ke sekeliling, ada sungai yang mengalir dengan air berwarna hitam, seketika bau menyengat memenuhi lubang hidung. flow, muncul dalam pikiran diamnya. tapi kesinilah ia pergi, menghindar dari flow. salah. bukan menghindar dari flow, tapi dari perasaannya sendiri.
dreamer berhenti ketika dua sosok pria dan wanita sibuk mengangkat keranjang berisi potongan kelapa. ia mengenali kedua sosok itu, dengan wajah dibuat sedemikian riang ia menghampiri mereka. "Abah, Ibu!" Seru dreamer dengan senyum lebar seraya mencium tangan sosok pria dan wanita yang ia panggil dengan abah dan ibu itu. kedua sosok itu adalah orangtua dreamer. ibu tersenyum dibalik wajah lelahnya begitupun abah yang tubuhnya telah ringkih karena usia.
ditempat inilah orangtua dremaer bekerja sebagai pedagang kelapa. mereka bahu membahu mencari uang untuk menyekolahkan dreamer dan kedua adiknya. mimpi abahnya amatlah sederhana, ia hanya ingin memanusiakan anak-anaknya dengan pendidikan yang layak. tidak perlu menjadi kaya, hidup sederhanapun tidak masalah asal mereka mampu sekolah tinggi. karena itulah, laki-laki yang tidak tahu tanggal lahirnya itu begitu semangat bekerja dan menyekolahkan ketiga putrinya itu. dreamer diam, beberapa saat melihat keisbukan kedua orangtuanya.
"Bagaimana kuliahmu?" Tanya Abah tanpa menghentikkan kesibukannya bekerja.
dreamer menarik nafas dalam sebelum berkata, "Tidak begitu baik. ada masalah yang membuat semesterku bertambah." ia menyimpan tas disebuah bangku panjang didalam tempat yang mereka sebut gudang. disanalah tempat abah menyimpan pasokan kelapa.
"Jadi gak jadi lulus tahun ini.?" Tanya abah lebih pada penegasan.
dreamer mengangguk tanpa berani melihat mata lelah laki-laki baya itu.
hening. ibu hanya tersenyum penuh arti sementara abah mengangkat keranjang lainnya yang kemudian ia cuci dan dimasukkan ke keranjang lain.
saat ini dreamer merindukan flow, ia membutuhkan flow untuk berpegang ketika ia merasa tak cukup kuat berdiri menjadi manusia tak berguna. kalimat ibu yang menyakitkan ketika telepon terakhir itu, terngiang begitu jelas menyakiti telinga dreamer. dreamer melihat ke gedung yang tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri, gedung lantai tiga dengan arsitektur sederhana itu menjadi tujuan dreamer untuk berharap banyak pada hidup, pada mimpinya sebagai penulis. digedung itulah, naskah novel yang ia kirim ke salah satu perusahaan penerbit buku terbesar ia kirimkan. mungkin saat ini tengah tergeletak disalah satu sudut ruangan gelap tak berpenghuni, atau jika beruntung naskah itu tengah berada ditangan seorang editor dan tinggal menunggu kesempatan untuk diterbitkan. harapan itu menggelembung, memenuhi setiap celah sel dalam kalbu dreamer. dan sosok flow tengah tersenyum semakin jelas memenuhi hitam-hitam matanya.
No comments:
Post a Comment