Friday, January 6, 2012

Untuk Seseorang yang Saya Panggil Flow (Alga Dwi Egantara)

orang ini, saya tidak paham bagaimana cara dia berpikir tentang pershabatan. apakah hanya sebuah hiburan tempat dimana kau menemukan kegembiraan, atau sekedar tempat berteduh ketika hujan, setelah reda kemudian pergi begitu saja. entahlah,,, meskipun ingin memahaminya tapi sepertinya dia tidak mengijinkan saya untuk paham.
         seperti rumput bergoyang yang tak mampu berdiri tegak ketika angin berniup, begitulah apa yang saya pikirkan tentang dirinya. ia seperti tak memiliki pendirian, seolah tak mampu berdiri tegak meskipun hanya sekedar angin kecil meniupnya. atau mungkin dia memiliki pendirian, hanya saja terlalu sulit untuk dipahami orang-orang disekitarnya. atau mungkin pendirian itu tidak masuk pad pemahamanku.
       dia datang padaku sebagai seorang ksatria berjubah panjang dengan dada berlapis besi dan tameng di tangan kiri sedang tongkat berujung pisau runcing di tangan kanan. seperti seorang Jengis Khan yang gagah di atas kuda tumpangannya, ia tampak begitu lihai menipu musuh yang berniat membunuhnya. Flow, begitu saya memanggilnya, adalah Jengis Khan versi saya. dia melindungi hati saya dari kepicikan hidup yang berusaha saya sangkal. dia mampu mengalihkan kesedihan menjadi sebuah harapan baru. bersamanya, memiliki teman seperti dirinya, tak pernah saya sesali.
      tapi sekarang, seperti orang-orang mencaci para pembunuh yang menghabisi nyawa seseorang karena hal sepele, begitulah saya. tampak tolol dan seperti binatang acuan yang di perintah ini dan itu tanpa mengeluh. saya mencaci diri sendiri dan dirinya. bukan karena pertemanan kami, tapi karena sesuatu yang saya tidak pernah tahu apa.
      ketika banyak orang meributkan hal-hal tetek bengek mengenai masalah negara dan pejabat-pejabatnya yang korup, saya menutup telinga dan diributkan oleh perkara lebih sepele dan remeh temeh dibanding hal lain yang lebih sepele dan remeh temeh. saya tidak mengenalnya, masih tidak tahu siapa dia sampai kemudian dia menjadi orang asing. dan akhirnya kami menjadi orang asing satu sama lain.
    saya masih menganggapnya teman, seorang sahabat yang baik. tapi sekarang dia tak lebih dari seorang manusia yang berjalan di samping saya tanpa saya mengenalnya. dia bukan siapa-siapa sekarang, sekedar orang lain yang tidak saya kenal.
     maaf kalau tulisan ini terlalu kasar, tapi kalau saja kamu berpikir jika apa yang kamu lakukan pada saya, itu lebih kasar.

No comments:

Post a Comment