kita lupakan sebentar tentang cinta, misteri dan kegalauan pikiran saya menuju pra sidang. saya tertarik menulis tentang tema sosial kali ini, semuanya terinspirasi dari seorang anak laki-laki yang mengaku dirinya Yudi. dia anak berumur sembilan tahun, putus sekolah, anak yatim dan memiliki dua adik yang masih kecil.
awalnya saya hanya diam menunggu teman yang tengah sibuk memilih-milih baju di sebuah FO di jalan trenojoyo. saya duduk diam, karena saya hanya mengantar sekalipun saya mau belanja, jatah bekal saya sudah cekak, alhasil hanya bisa menelan ludah dan mengurungkan keinginan untuk membeli. sedang asyik melamun, Yudi datang menawarkan dagangannya. saya diam, tidak begitu suka dengan anak kecil yang merengek agar dagangannya dibeli. tapi ada yang berbeda dengan anak ini, dia duduk disamping saya sambil menyalakan rokok dengan tenang dan kemudian tidak berapa lama kepulan asap keluar dari mulutnya.
"Teh, gak belanja?" Tanyanya tanpa melihat saya.
saya bukannya menjawab tapi malah tersenyum miris melihat apa yang ada dihadapan saya. saat saya tanya sejak kapan dia merokok, dia jawab dengan begitu enteng sejak kecil.
saya mengerutkan dahi berusaha mencerna jawabannya. sejak kecil? kalau begitu apakah dia sekarang merasa dirinya sudah besar atau mungkin dewasa? Yudi begitu nikmat menghisap setiap hela asap rokok yang dia hisap. aku menghembuskan nafas bersiap untuk bertanya.
"Apa tidak pulang? bukannya sekarang udah malam?" Tanya saya ketika melihat jam yang sudah menunjukkan jam sepuluh.
"Buat apa pulang. enak juga disini, Teh. bebas."
"Emang Ibu-Bapak kamu gak nyari'in?"
"Bapak udah gak ada, Ibu sibuk sama 'pelanggannya'."
saya diam. tidak tahu apa harus percaya dengan omongan anak berambut cepak, kulit hitam mengilat karena keringat yang mengering dan binar mata keruh itu. banyak dari mereka yang malah bangga dengan keterbatasan hidup yang menyekik leher mereka seolah akan putus, mengarang cerita lebih menyedihkan agar orang-orang simpati dan memberikan apa yang mereka harapkan. saya mengeluarkan uang kertas dengan nominal sekian. saya memberikannya pada Yudi, tapi kemudian Yudi mengembalikan uang itu pada saya.
"Saya lebih seneng Teteh beli cirengnya daripada ngasih saya uang cuma-cuma."
saya tersenyum ketika mendengar kata-kata Yudi. apa benar orang seperti ini ada? saya hanya tahu di cerita beberapa novel saja, tentang seorang yang hidup dalam keterbatasan tapi tak meminta simpati untuk dikasihani.
"Seriusan kamu gak mau uangnya? kalau gak mau saya masukin lagi ke dompet neh."
Yudi dengan rokok yang tinggal setengah mengagguk yakin,,,"Kecuali teteh mau beli cireng saya, uang itu saya terima."
akhirnya saya membeli cireng dengan harga Rp 5000 tanpa tahu cireng itu akan saya apakan setibanya di kosan karena tidak ada tempat untuk menggorengnya. "Apa kamu sangat suka merokok?" Tanya saya kemudian setelah menyimpan bungkusan cireng ke dalam tas.
"Ya lumayanlah buat penahan lapar."
"Emang bisa rokok buat nahan lapar?"
"Bisa saya mah teh. kadang saya kuat seharian cuma ngerokok."
"Ah bohong kamu. tapi kalaupun iya, gimana juga kamu harus makan. tar sakit loh."
Yudi tertawa. aku tidak, lagipula apa yang aku katakan bukan banyolan.
"Temen2 teteh juga pasti suka ngerokok ya?"
"Mayoritas iya. kadang mereka bisa ngehabisin satu bungkus dalam sehari. gelo kan?"
Yudi tertawa lagi. "kalau pacar teteh?"
well ditanya tentang yang satu itu saya benar-benar bungkam. "Hah,, apa kamu pernah pacaran?"
Yudi menggeleng. "Saya belum pernah pacaran, tapi saya mau nyoba."
"Eh,, jangan! masih kecil. lagian punya pacar gak enak. nyakitin tauk."
"Masa teh? temen2 saya biasanya ngamen suka sama pacarnya, mereka sering ciuman di depan saya."
"Ya kamu jangan mau kaya gitu. itu gak baik. nih dengerin, pacaran itu bikin kamu kelaparan padahal kamu udah makan banyak, gak bisa tidur padahal kamu tunduh pisan. pacaran itu pokokna mah teu enakeun lah. cig we cobain."
"Tadi ceunah ulah."
"Eh iya ketang. gak boleh."
teman saya tidak kemudian keluar sambil membawa beberapa kantong plastik berisi baju yang ia beli. dia mengajak saya untuk pulang. saya harus mengakhiri obrolan dengan yudi.
dia, entah kapan saya akan bertemu dengannya lagi. tapi ketika meninggalkan tempat itu, ada rasa haru bercampur sedih yang coba saya tahan. apakah anak itu bisa membaca? atau sekedar menulis namanya. apa dia mampu?
Yudi berbeda. dia membuat saya memberikan uang itu tulus tanpa berniat pamrih. dia membuat saya mensyukuri apa yang saya miliki saat ini. sahabat, keluarga, dan orang-orang yang menyukai ataupun membenci.
No comments:
Post a Comment