Akhir bulan sebelas, sore hari, di
padang rumput
Perlahan, matahari mulai berjalan mundur
dipelataran langit barat, menyisakan cahaya jingga yang menyembul diantara awan
berarak. Langit sebagian berwarna abu, sebagian kecil berwarna jingga sisa dari
hari yang belum berakhir. Damai. Angin lembut menerpa wajahnya yang terbaring
menatap langit diatas padang rumput hijau.
Lama Dreamer tidak
mengunjungi tempat ini. Ia bahkan tidak menyadari jika tempat ini masih begitu
indah seperti yang ada dalam ingatannya dahulu. Ia memejamkan mata, merasakan
sebuah keheningan yang lebih indah dari biasanya. Dreamer sendiri, tapi ia tak
hampa. Tak ada Flow disini, tapi ia tak begitu khawatir.
“Tempat ini indah,
bukan?” Suara seorang laki-laki tiba-tiba muncul dari arah samping tempat ia
membaringkan badannya.
Dreamer membuka mata
kemudian menggerakkan sedikit kepalanya ke arah suara itu berasal. Ia melihat
punggung seorang laki-laki berambut cepak dengan kemeja flannel hijau muda yang
duduk membelakanginya. Dreamer menilik dengan seksama punggung itu, tapi tidak
ada satupun ingatan yang mampu membuatnya mengenal laki-laki itu. Dreamer
bangkit lalu melihat wajah laki-laki itu dari samping.
“Apa aku mengenalmu?”
Tanya Dreamer dengan nada hati-hati.
“Bisa iya, bisa nggak.”
Jawabnya santai.
“Baiklah…” Dreamer
tidak mau terlibat obrolan dengan laki-laki itu. Ia bersikap lebih hati-hati
untuk dekat dan berteman dengan laki-laki manapun dan laki-laki ini salah
satunya.
Hening. Dreamer
menggeser tempat duduknya sedikit menjauh dari laki-laki itu. Seperti dapat
mendengar suara sekecil apapun dalam radius ratusan meter, mata laki-laki itu
mendelik dengan posisi kepala tetap seperti sebelumnya tanpa bergerak
sedikitpun ketika Dreamer menggeser posisi duduknya beberapa senti meter .
“Kamu takut sama aku?”
Tanyanya dengan nada terdengar begitu santai.
Dreamer diam. Ia tidak
tahu harus menjawab jujur atau bohong. “Aku cuma takut ganggu kamu aja,” Jawab Dreamer
akhirnya memilih untuk berbohong.
Laki-laki itu asik
membaca komik yang ada ditangannya. Rambut cepaknya tertata rapi, tampak
parlente dengan warna kulitnya yang putih bersih. Dreamer mengeluarkan mp3 dari
saku celana jeans lusuhnya kemudian tenggelam dalam setiap syair yang
dilagukan.
Laki-laki itu
mengulurkan tangannya kemudian tersenyum pada Dreamer dengan cara tidak wajar,
“Saya Raka…” Katanya mengajak berkenalan.
Dreamer memandangi
tangan itu cukup lama dengan dahi berkerut. Dreamer mulai mengangkat tangan
kanannya dengan ragu ia menyambut uluran tangan itu. “Dreamer..” dan Dreamerpun
berusaha untuk terlihat ramah.
“Apa aku boleh ikut
dengerin lagunya?” Raka menunjuk headset yang Dreamer pake.
Masih dengan tatapan
aneh, Dreamer memberikan sebelah headset pada Raka. Raka menerima headset itu
dengan senyum lebar kemudian membenamkannya pada lubang telinga. “Kamu lagi
patah hati ya?” tanyanya kemudian.
Mungkin salah satu
keahlian Raka adalah membuat orang bengong terkaget-kaget dengan semua
ucapannya yang terdengar begitu santai dan ringan. Tidak tahu saja jika
sebenarnya ia telah mengajukan pertanyaan yang benar-benar menohok hati
Dreamer. Raka melirik ke arah Dreamer yang masih bungkam.
“Gimana bisa kamu
nyimpulin aku lagi patah hati?” Dreamer menatap wajah tenang Raka dengan
pandangan tak wajar.
“Never mind l’ll find someone like you, l wish nothing but the best for
you, don’t forget me, I beg, l’ll remember you, sometimes it least in love but
sometimes it’s hurt instead. Lirik itu udah cukup jelas ngegambarin hati
yang ngedengernya lho.” Kata Raka sambil mengucapkan lirik lagunya.
“Well,,, hanya rasa
kehilangan biasa aja.” Dreamer menarik nafas dalam setelah mengatakan kalimat
itu.
“Kehilangan itu sama
seperti ditinggalkan. Apa kamu baru ditinggalin orang yang kamu suka. Siapa?”
Dreamer diam, ia
berpikir. Melihat dengan tatapan aneh sikap Raka yang tidak biasa dengan sikap
manusia lain yang ia anggap wajar. Raka seperti Edward Cullen seolah ia mampu
membaca pikiran manusia.
Dreamer masih diam. Ia belum
yakin untuk menceritakan masalahnya pada laki-laki ini. “Bukan siapa-siapa…”
Jawab Dreamer kemudian.
“Kalau bukan
siapa-siapa kenapa suara kamu bergetar begitu. Kamu mau nangis ya?”
“Wuah, kamu punya
kemampuan membaca pikiran seseorang atau pembaca mimik wajah atau apa?”
“Yah, bisa dibilang
begitu.”
“Kemampuan yang luar
biasa,” Kata Dreamer dengan nada sedikit sinis sambil bertepuk tangan.
Raka tersenyum sambil
melihat ke arah Dreamer dan menyimpan komiknya. Ia tahu arti tepuk tangan
Dreamer hanya sebuah bentuk penyepelean. “Jadi ini semacam tempat pelarian buat
kamu?”
“Hmmm,,, iya.” Dreamer
menjawab kemudian setelah sebelumnya seperti ragu mengatakan kata itu.
“Apa ada yang sedang
ingin kamu sangkal?” Tanpa berusaha mengerti keadaan hati orang yang ditanya,
Raka mengatakan pertanyaan itu begitu ringan. Dan lagi-lagi membuat Dreamer
mengerutkan dahi.
Dreamer tidak tahu
siapa Raka, ia mengenalnya beberapa menit yang lalu dan ia tidak mungkin
menceritakan apa masalahnya, apa yang tengah membuat keadaan hatinya tidak baik.
Raka orang asing, Dreamer tidak mau mencari kenyamanan dalam diri Raka seperti
yang pernah ia lakukan pada Flow. “Aku lagi berusaha mencari keyakinan, bukan
mau menyangkal.” Jawabnya kemudian dengan hati-hati.
“Dari apa yang mau kamu
sangkal, sebenarnya disitu keyakinan bisa kamu temuin. Sesuatu kamu sangkal
karena kamu gak bisa nerima keadaan itu. Sekarang gimana bisa kamu nemuin
keyakinan kalau tanpa kamu sadari keyakinan itu terus kamu sangkal.”
“Aku gak ngerti..”
“Kamu bakal ngerti,
kalau kamu berhenti menyangkal mulai dari sekarang.”
“Apa kamu penulis novel
drama?” Tanya Dreamer kemudian merasa cukup aneh dengan cara bicara Raka.
“Bukan penulis dan gak
berusaha buat jadi penulis, cuma penyuka novel drama aja.”
Mereka tersenyum
bersamaan dengan cara berbeda. Dreamer mematikan mp3nya kemudian diam. ‘Menemukan keyakinan dan behenti menyangkal
mulai dari sekarang‘ Kalimat Raka
masih berdengung ditelinganya. Ia mengukur kebenaran kalimat itu kemudian
tersenyum, “Terimakasih…” Kata Dreamer sedikit mengambang.
Raka menoleh ke arah
Dreamer dan menatapnya cukup lama menunggu kalimat yang akan dikatakan Dreamer
selanjutnya.
“Saya cuma mau bilang
makasih aja,,,” Dreamer akhirnya hanya mampu mengatakan kalimat itu ketika ia
sendiri tidak tahu untuk apa kata terimakasih itu diucapkan. “… dan sekarang
saya pergi duluan.” Dreamer berdiri sambil memasukkan mp3 ke dalam tas. “Senang
berkenalan dengan kamu,,, Raka. Sampai ketemu lagi.” Dreamer menyodorkan
tangannya untuk berjabat tangan. Dengan senyum lebar, Raka menerima sodoran
tangan itu.
Dreamer berbalik
kemudian melangkahkan kakinya. Tanpa menoleh lagi ke arah Raka, Dreamer
berjalan mendengarkan apa yang tengah diributkan hati dan logikanya. Lagi-lagi
tentang Flow, hati Dreamer menjadi kacau.
Ia tertawa getir ketika
menyadari kehilangan yang menyakitkan itu ternyata karena Dreamer menyukai
Flow. Jika saja rasa suka tak ada disana, perubahan sikap Flow tidak akan
terasa begitu pilu dan menimbulkan banyak pertanyaan dalam kompartemen pikiran
Dreamer. Kalau tidak ada cinta dalam perasaannya, perubahan sikap Flow yang
tiba-tiba seperti itu tidak akan membuat Dreamer begitu terluka, tapi karena
ada perasaan suka terselip dalam hati Dreamer, terang saja perubahan sikap Flow
itu terasa menyakitkan. Karena ia kehilangan orang yang disukai.
Dreamer masih berpikir,
sedikit demi sedikit kabut gelap yang menyelubungi pikiran Dreamer tersingkap dan
akhirnya sebanyak apapun ia menyangkal dan membohongi banyak orang, tetap saja
ia tak mampu membohongi diri sendiri. Rasa rindu yang ia rasakan setiap saat,
bukan rindu sembarangan. Bukan sekedar rindu karena kehilangan sosok teman dan
sahabat tapi sesuatu yang lebih besar
dari sekedar itu.
Dreamer mengeluarkan
telepon genggamnya kemudian mengirim pesan ke nomor Happy. Ia memberitahu
sahabatnya itu tentang apa yang baru saja ia simpulkan tentang perasaannya.
Untuk pertama kali setelah hampir dua tahun mati rasa, jantung Dreamer kembli
bertalu dalam ritme kacau balau. Tapi sayang, perasaan itu harus mati sebelum
benar-benar tumbuh. Entah waktu atau keadaan yang tidak tepat, tapi sesuatu tidak
mengijinkan perasaan dalam hatinya diam lebih lama. Ia tertawa sinis,
menertawakan lelucon hidup yang tengah menimpanya.
Dari awal sepertinya
Flow mengerti perasaan Dreamer. Ia menghindar karena tidak mau Dreamer
mencintainya atau ia tidak mau dicintai Dreamer. Dreamer hanya bisa
menduga-duga, ia tak mampu menanyakan hal itu pada Flow.
No comments:
Post a Comment