Tuesday, March 13, 2012

Bagian 6

untuk pembaca, kemarin ceritanya sempat terputus. dan sekarang saya akan mempublish kelanjutannya. enjoy yah,, dan silahkan berikan pendapat kalian. Please!!!


Akhir bulan sebelas, sore hari, di padang rumput
Perlahan, matahari mulai berjalan mundur dipelataran langit barat, menyisakan cahaya jingga yang menyembul diantara awan berarak. Langit sebagian berwarna abu, sebagian kecil berwarna jingga sisa dari hari yang belum berakhir. Damai. Angin lembut menerpa wajahnya yang terbaring menatap langit diatas padang rumput hijau.
Lama Dreamer tidak mengunjungi tempat ini. Ia bahkan tidak menyadari jika tempat ini masih begitu indah seperti yang ada dalam ingatannya dahulu. Ia memejamkan mata, merasakan sebuah keheningan yang lebih indah dari biasanya. Dreamer sendiri, tapi ia tak hampa. Tak ada Flow disini, tapi ia tak begitu khawatir.
“Tempat ini indah, bukan?” Suara seorang laki-laki tiba-tiba muncul dari arah samping tempat ia membaringkan badannya.
Dreamer membuka mata kemudian menggerakkan sedikit kepalanya ke arah suara itu berasal. Ia melihat punggung seorang laki-laki berambut cepak dengan kemeja flannel hijau muda yang duduk membelakanginya. Dreamer menilik dengan seksama punggung itu, tapi tidak ada satupun ingatan yang mampu membuatnya mengenal laki-laki itu. Dreamer bangkit lalu melihat wajah laki-laki itu dari samping.
“Apa aku mengenalmu?” Tanya Dreamer dengan nada hati-hati.
“Bisa iya, bisa nggak.” Jawabnya santai.
“Baiklah…” Dreamer tidak mau terlibat obrolan dengan laki-laki itu. Ia bersikap lebih hati-hati untuk dekat dan berteman dengan laki-laki manapun dan laki-laki ini salah satunya.
Hening. Dreamer menggeser tempat duduknya sedikit menjauh dari laki-laki itu. Seperti dapat mendengar suara sekecil apapun dalam radius ratusan meter, mata laki-laki itu mendelik dengan posisi kepala tetap seperti sebelumnya tanpa bergerak sedikitpun ketika Dreamer menggeser posisi duduknya beberapa senti meter .
“Kamu takut sama aku?” Tanyanya dengan nada terdengar begitu santai.
Dreamer diam. Ia tidak tahu harus menjawab jujur atau bohong. “Aku cuma takut ganggu kamu aja,” Jawab Dreamer akhirnya memilih untuk berbohong.
Laki-laki itu asik membaca komik yang ada ditangannya. Rambut cepaknya tertata rapi, tampak parlente dengan warna kulitnya yang putih bersih. Dreamer mengeluarkan mp3 dari saku celana jeans lusuhnya kemudian tenggelam dalam setiap syair yang dilagukan.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya kemudian tersenyum pada Dreamer dengan cara tidak wajar, “Saya Raka…” Katanya mengajak berkenalan.
Dreamer memandangi tangan itu cukup lama dengan dahi berkerut. Dreamer mulai mengangkat tangan kanannya dengan ragu ia menyambut uluran tangan itu. “Dreamer..” dan Dreamerpun berusaha untuk terlihat ramah.
“Apa aku boleh ikut dengerin lagunya?” Raka menunjuk headset yang Dreamer pake.
Masih dengan tatapan aneh, Dreamer memberikan sebelah headset pada Raka. Raka menerima headset itu dengan senyum lebar kemudian membenamkannya pada lubang telinga. “Kamu lagi patah hati ya?” tanyanya kemudian.
Mungkin salah satu keahlian Raka adalah membuat orang bengong terkaget-kaget dengan semua ucapannya yang terdengar begitu santai dan ringan. Tidak tahu saja jika sebenarnya ia telah mengajukan pertanyaan yang benar-benar menohok hati Dreamer. Raka melirik ke arah Dreamer yang masih bungkam.
“Gimana bisa kamu nyimpulin aku lagi patah hati?” Dreamer menatap wajah tenang Raka dengan pandangan tak wajar.
Never mind l’ll find someone like you, l wish nothing but the best for you, don’t forget me, I beg, l’ll remember you, sometimes it least in love but sometimes it’s hurt instead. Lirik itu udah cukup jelas ngegambarin hati yang ngedengernya lho.” Kata Raka sambil mengucapkan lirik lagunya.
“Well,,, hanya rasa kehilangan biasa aja.” Dreamer menarik nafas dalam setelah mengatakan kalimat itu.
“Kehilangan itu sama seperti ditinggalkan. Apa kamu baru ditinggalin orang yang kamu suka. Siapa?”
Dreamer diam, ia berpikir. Melihat dengan tatapan aneh sikap Raka yang tidak biasa dengan sikap manusia lain yang ia anggap wajar. Raka seperti Edward Cullen seolah ia mampu membaca pikiran manusia.
Dreamer masih diam. Ia belum yakin untuk menceritakan masalahnya pada laki-laki ini. “Bukan siapa-siapa…” Jawab Dreamer kemudian.
“Kalau bukan siapa-siapa kenapa suara kamu bergetar begitu. Kamu mau nangis ya?”
“Wuah, kamu punya kemampuan membaca pikiran seseorang atau pembaca mimik wajah atau apa?”
“Yah, bisa dibilang begitu.”
“Kemampuan yang luar biasa,” Kata Dreamer dengan nada sedikit sinis sambil bertepuk tangan.
Raka tersenyum sambil melihat ke arah Dreamer dan menyimpan komiknya. Ia tahu arti tepuk tangan Dreamer hanya sebuah bentuk penyepelean. “Jadi ini semacam tempat pelarian buat kamu?”
“Hmmm,,, iya.” Dreamer menjawab kemudian setelah sebelumnya seperti ragu mengatakan kata itu.
“Apa ada yang sedang ingin kamu sangkal?” Tanpa berusaha mengerti keadaan hati orang yang ditanya, Raka mengatakan pertanyaan itu begitu ringan. Dan lagi-lagi membuat Dreamer mengerutkan dahi.
Dreamer tidak tahu siapa Raka, ia mengenalnya beberapa menit yang lalu dan ia tidak mungkin menceritakan apa masalahnya, apa yang tengah membuat keadaan hatinya tidak baik. Raka orang asing, Dreamer tidak mau mencari kenyamanan dalam diri Raka seperti yang pernah ia lakukan pada Flow. “Aku lagi berusaha mencari keyakinan, bukan mau menyangkal.” Jawabnya kemudian dengan hati-hati.
“Dari apa yang mau kamu sangkal, sebenarnya disitu keyakinan bisa kamu temuin. Sesuatu kamu sangkal karena kamu gak bisa nerima keadaan itu. Sekarang gimana bisa kamu nemuin keyakinan kalau tanpa kamu sadari keyakinan itu terus kamu sangkal.”
“Aku gak ngerti..”
“Kamu bakal ngerti, kalau kamu berhenti menyangkal mulai dari sekarang.”
“Apa kamu penulis novel drama?” Tanya Dreamer kemudian merasa cukup aneh dengan cara bicara Raka.

“Bukan penulis dan gak berusaha buat jadi penulis, cuma penyuka novel drama aja.”
Mereka tersenyum bersamaan dengan cara berbeda. Dreamer mematikan mp3nya kemudian diam. ‘Menemukan keyakinan dan behenti menyangkal mulai dari sekarang‘ Kalimat Raka masih berdengung ditelinganya. Ia mengukur kebenaran kalimat itu kemudian tersenyum, “Terimakasih…” Kata Dreamer sedikit mengambang.
Raka menoleh ke arah Dreamer dan menatapnya cukup lama menunggu kalimat yang akan dikatakan Dreamer selanjutnya.
“Saya cuma mau bilang makasih aja,,,” Dreamer akhirnya hanya mampu mengatakan kalimat itu ketika ia sendiri tidak tahu untuk apa kata terimakasih itu diucapkan. “… dan sekarang saya pergi duluan.” Dreamer berdiri sambil memasukkan mp3 ke dalam tas. “Senang berkenalan dengan kamu,,, Raka. Sampai ketemu lagi.” Dreamer menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Dengan senyum lebar, Raka menerima sodoran tangan itu.
Dreamer berbalik kemudian melangkahkan kakinya. Tanpa menoleh lagi ke arah Raka, Dreamer berjalan mendengarkan apa yang tengah diributkan hati dan logikanya. Lagi-lagi tentang Flow, hati Dreamer menjadi kacau.
Ia tertawa getir ketika menyadari kehilangan yang menyakitkan itu ternyata karena Dreamer menyukai Flow. Jika saja rasa suka tak ada disana, perubahan sikap Flow tidak akan terasa begitu pilu dan menimbulkan banyak pertanyaan dalam kompartemen pikiran Dreamer. Kalau tidak ada cinta dalam perasaannya, perubahan sikap Flow yang tiba-tiba seperti itu tidak akan membuat Dreamer begitu terluka, tapi karena ada perasaan suka terselip dalam hati Dreamer, terang saja perubahan sikap Flow itu terasa menyakitkan. Karena ia kehilangan orang yang disukai.
Dreamer masih berpikir, sedikit demi sedikit kabut gelap yang menyelubungi pikiran Dreamer tersingkap dan akhirnya sebanyak apapun ia menyangkal dan membohongi banyak orang, tetap saja ia tak mampu membohongi diri sendiri. Rasa rindu yang ia rasakan setiap saat, bukan rindu sembarangan. Bukan sekedar rindu karena kehilangan sosok teman dan sahabat  tapi sesuatu yang lebih besar dari sekedar itu.
Dreamer mengeluarkan telepon genggamnya kemudian mengirim pesan ke nomor Happy. Ia memberitahu sahabatnya itu tentang apa yang baru saja ia simpulkan tentang perasaannya. Untuk pertama kali setelah hampir dua tahun mati rasa, jantung Dreamer kembli bertalu dalam ritme kacau balau. Tapi sayang, perasaan itu harus mati sebelum benar-benar tumbuh. Entah waktu atau keadaan yang tidak tepat, tapi sesuatu tidak mengijinkan perasaan dalam hatinya diam lebih lama. Ia tertawa sinis, menertawakan lelucon hidup yang tengah menimpanya.
Dari awal sepertinya Flow mengerti perasaan Dreamer. Ia menghindar karena tidak mau Dreamer mencintainya atau ia tidak mau dicintai Dreamer. Dreamer hanya bisa menduga-duga, ia tak mampu menanyakan hal itu pada Flow.  

No comments:

Post a Comment