Pertengahan bulan sebelas, sore
hari, tempat tak terdeskripsikan
Satu bulan. Flow semakin berlari jauh
meninggalkan Dreamer dalam kebingungan tanpa berusaha menoleh ke arah Dreamer
berdiri. Tertegun ditempat yang sama tanpa bergeming. Dreamer berusaha
melupakan. Kesibukannya menyusun skripsi sedikit mengalihkan pikiran itu,
meskipun disatu waktu pikiran itu semakin membebani. Flow barangkali sudah
menutup pintu untuk Dreamer, tidak mengijinkannya masuk. Dreamer bisa saja
memilih berbalik, kemudian pulang. Tapi ia masih berdiri disana, mengumpulkan
keberanian untuk mengetuk pintu tertutup itu suatu hari.
Sejam sudah Dreamer
duduk mematut wajahnya di depan cermin. Ia mencoba memasang wajah ceria. Tapi
seolah ia kehilangan kemampuan untuk terlihat riang. Wajah itu kembali
menunjukkan sedih. Dreamer berhenti berusaha, ia menyerah kali ini.
Dihadapannya, seorang wanita menyentuh
pipi kiri lalu menatap sayu. Dreamer berusaha berkata, tapi setiap kata yang ia
ucapkan diikuti wanita itu. Setiap gerak yang ia lakukan diikuti oleh wanita
yang duduk tepat dihadapannya dengan gerak berlawanan. Jika Dreamer menyentuh pipi
kiri, maka wanita sendu itu menyentuh pipi kanan.
“Apa
kamu ingin menangis?” Tanya wanita bermata sayu itu pada Dreamer.
Dreamer hanya
menggeleng sambil bergumam, “Tidak…” Ucapannya mengambang seolah tidak yakin.
“Sudah
berapa ratus menit yang terbuang hanya duduk didepan cermin seperti itu dengan
wajah memelas. Apa karena tidak ada yang mencintaimu?” Ucapan wanita itu
menyinggung ketenangan perasaan Dreamer.
“Tidak!
Seseorang diluar sana ada yang mencintaiku.” Kata Dreamer tidak terima dengan
nada sedikit tinggi.
“Siapa?”
“Seseorang
yang tidak perlu kamu tahu.”
“Apa
kamu baru saja berkata bohong?” wanita itu tersenyum licik. Tatapannya
merendahkan.
Dreamer
mengangkat wajahnya yang tertunduk dan menatap luru-lurus wajah wanita itu.
“Apa sebenarnya mau kamu?” Dreamer mulai kehilangan kendali atas emosinya yang
dipermainkan wanita itu.
Wanita itu masih
tersenyum dengan garis senyum tidak wajar. “Apa kamu akan menjadi wanita tolol
sepanjang hidupmu? Membuang waktu berharga untuk meratap merasa seperti itik
buruk rupa yang bercita-cita ingin jadi angsa supaya laki-laki itu bisa
mencintaimu? Hei, sadar! Ini bukan cerita dalam buku dongeng. Sampai kapan kamu
mengharapkan keajaiban kalau yang kamu lakukan hanya duduk mengutuk. Lupakan
dia! Dan hidupmu akan baik-baik saja.” Wanita itu menatap tajam wajah Dreamer.
Setelah lama diam
Dreamer bergumam, “Aku sedang tidak ingin dicintai siapapun.” Kata Dreamer
menyangkal suaranya sendiri.
“Apa
ucapan itu adalah kebohongan lain lagi?”
Wanita itu seolah bisa
membaca pikiran Dreamer. Ia berbicara begitu lancang mengacak-ngacak setiap
keyakinan yang coba dibangun Dreamer tentang keadaan dirinya. “Dengar, hidupku
baik-baik saja. Tidak ada yang salah.”
“Baiklah.
Sepertinya penyangkalan cukup berguna buat orang yang tidak berguna…”
Dreamer menatap wajah
wanita itu yang menatapnya penuh kebencian. Nanar mata itu mengguratkan hal
yang sama seperti dirinya. Wanita itu bereaksi sama seperti Dreamer, seolah
bayangan, dia mengikuti setiap hal yang dilakukan Dreamer. “Apa kamu sadar apa
yang kamu katakan barusan?” Suara Dreamer bergetar.
“Apa
yang mau aku katakan belum selesai. Aku sedang berpikir, kira-kira istilah apa
yang tepat diperuntukkan bagi orang yang mempermasalahkan hal dangkal seperti
ini. Laki-laki itu menjauh, berarti dia tidak menyukaimu. Dia… membencimu. Lalu
kenapa masih mempertimbangkan untuk membicarakan hal yang sudah jelas kamu tahu
akhirnya bagaimana. Akhirnya adalah kamu hanya wanita yang dicampakkan, lalu
dia akan tersenyum lebar tanpa beban sambil memeluk wanita lain. Hanya kamu
yang menangis. Laki-laki itu tidak akan perduli seberapa keraspun kamu
menangis, karena baginya kamu tidak berarti apa-apa. Baginya kamu hanya lalat
hijau bau sampah yang tak menarik. Manusia kacangan yang bisa dibuang kapan saja
dia mau.”
Dreamer diam. Dadanya
terasa sesak menahan desakan yang memaksa keluar. “Tapi dia orang baik.”
Lirihnya kemudian.
“Manusia
punya banyak cara licik. Kamu tidak akan pernah tahu mana yang tulus dan tidak.
Sikap itu hanya kamuflase untuk mengangkatmu sampai tinggi kemudian
membantingmu sampai hancur. Jadi berhentilah merengek, angkat wajahmu, lihat
jalan dihadapan, dengan begitu kamu tahu jika hidup tidak lagi sesulit yang
kamu duga. Dengan atau tanpa dirinya, hidupmu baik-baik saja.” Suara wanita itu
melembut.
“Tapi
aku tidak mau melupakannya.”
“Kalau
begitu kamu akan menjadi orang paling tolol dibanding orang-orang yang berdiri
dengan kaki mengangkang, para pewaris mental feodal masa lalu.” Suara wanita
itu kembali meninggi.
Dreamer tak lagi berusaha
melawan suara itu. Dan ketika ia melihat ke cermin, wajah wanita sayu yang baru
saja berkata sinis padanya berurai airmata. Dreamer menyentuh bulir hangat di
pipi wanita itu yang juga adalah pipinya. Suara-suara nyinyir memaki itu
kemudian hilang. Benar-benar hilang. Seolah Mara tak lagi disana menghasut
Shidarta agar berbuat jahat.
Dreamer sedih sekaligus
marah ketika ia sadar, suara itu benar. Ia harus mulai melupakan Flow. Yang
menyakitkan baginya adalah ketika ia baru saja menemukan tempat pelarian,
tempat bersembunyi saat ada begitu banyak hal yang ingin dia sangkal, tapi
tiba-tiba tempat itu menjadi asing dan tidak lagi menimbulkan kedamaian. Tidak
ada lagi yang bisa dicoba, selain pergi lalu menghilang berharap seluruhnya
dilupakan.
Dreamer memejamkan matanya, meresapi
perih yang menggigit dengan taring-taring tajamnya. Namun, Dreamerpun tahu,
sudah saatnya ia melupakan bayangan itu. “Selamat tinggal…. Flow.” Dan ia diam merasakan
perihnya perpisahan yang dilakukan sendirian. Sejak hari ini, Flow resmi
menjadi orang lain. Dreamer masih diam melihat wajahnya yang terpantul dari
cermin. Ia kemudian beranjak menyalakan musik lewat speaker aktif yang
tersambung ke mp3nya. Ia sengaja mendengarkan musik keras aliran rock metal
sebuah band luar yang cukup terkenal. Lirik yang penuh kemarahan dan suara
vocal yang tinggi juga hentakan musik yang keras, membuat Dreamer merasa lebih
tegar. Ia tidak suka mendengarkan musik mendayu ketika hatinya cengeng, karena
jika begitu ia akan sama cengengnya seperti lagu itu.
Seseorang
mengetuk pintu kamar Dreamer. Ia terhenyak untuk beberapa detik kemudian tak
perduli. Pintu masih diketuk, tapi Dreamer masih terlalu sibuk dengan
pikirannya, ia tak mau menemui dan ditemui siapapun.
Dreamer
menekan dadanya yang terasa sesak. Ia ingin berhenti merenung dan berpikir
tentang Flow, tapi entah kenapa semakin ia mencoba untuk berhenti semakin
semuanya terasa sulit. Rasanya seperti kau ingin mati tapi tak bisa, bahkan
ketika kau menginginkannya.
No comments:
Post a Comment