Thursday, March 15, 2012

bagian 6A


Pertengahan bulan sebelas, sore hari, tempat tak terdeskripsikan
Satu bulan. Flow semakin berlari jauh meninggalkan Dreamer dalam kebingungan tanpa berusaha menoleh ke arah Dreamer berdiri. Tertegun ditempat yang sama tanpa bergeming. Dreamer berusaha melupakan. Kesibukannya menyusun skripsi sedikit mengalihkan pikiran itu, meskipun disatu waktu pikiran itu semakin membebani. Flow barangkali sudah menutup pintu untuk Dreamer, tidak mengijinkannya masuk. Dreamer bisa saja memilih berbalik, kemudian pulang. Tapi ia masih berdiri disana, mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu tertutup itu suatu hari.
Sejam sudah Dreamer duduk mematut wajahnya di depan cermin. Ia mencoba memasang wajah ceria. Tapi seolah ia kehilangan kemampuan untuk terlihat riang. Wajah itu kembali menunjukkan sedih. Dreamer berhenti berusaha, ia menyerah kali ini. Dihadapannya, seorang wanita  menyentuh pipi kiri lalu menatap sayu. Dreamer berusaha berkata, tapi setiap kata yang ia ucapkan diikuti wanita itu. Setiap gerak yang ia lakukan diikuti oleh wanita yang duduk tepat dihadapannya dengan gerak berlawanan. Jika Dreamer menyentuh pipi kiri, maka wanita sendu itu menyentuh pipi kanan.
            “Apa kamu ingin menangis?” Tanya wanita bermata sayu itu pada Dreamer.
Dreamer hanya menggeleng sambil bergumam, “Tidak…” Ucapannya mengambang seolah tidak yakin.
            “Sudah berapa ratus menit yang terbuang hanya duduk didepan cermin seperti itu dengan wajah memelas. Apa karena tidak ada yang mencintaimu?” Ucapan wanita itu menyinggung ketenangan perasaan Dreamer.
            “Tidak! Seseorang diluar sana ada yang mencintaiku.” Kata Dreamer tidak terima dengan nada sedikit tinggi.
            “Siapa?”
            “Seseorang yang tidak perlu kamu tahu.”
            “Apa kamu baru saja berkata bohong?” wanita itu tersenyum licik. Tatapannya merendahkan.
            Dreamer mengangkat wajahnya yang tertunduk dan menatap luru-lurus wajah wanita itu. “Apa sebenarnya mau kamu?” Dreamer mulai kehilangan kendali atas emosinya yang dipermainkan wanita itu.
Wanita itu masih tersenyum dengan garis senyum tidak wajar. “Apa kamu akan menjadi wanita tolol sepanjang hidupmu? Membuang waktu berharga untuk meratap merasa seperti itik buruk rupa yang bercita-cita ingin jadi angsa supaya laki-laki itu bisa mencintaimu? Hei, sadar! Ini bukan cerita dalam buku dongeng. Sampai kapan kamu mengharapkan keajaiban kalau yang kamu lakukan hanya duduk mengutuk. Lupakan dia! Dan hidupmu akan baik-baik saja.” Wanita itu menatap tajam wajah Dreamer.
Setelah lama diam Dreamer bergumam, “Aku sedang tidak ingin dicintai siapapun.” Kata Dreamer menyangkal suaranya sendiri.
            “Apa ucapan itu adalah kebohongan lain lagi?”
Wanita itu seolah bisa membaca pikiran Dreamer. Ia berbicara begitu lancang mengacak-ngacak setiap keyakinan yang coba dibangun Dreamer tentang keadaan dirinya. “Dengar, hidupku baik-baik saja. Tidak ada yang salah.”
            “Baiklah. Sepertinya penyangkalan cukup berguna buat orang yang tidak berguna…”
Dreamer menatap wajah wanita itu yang menatapnya penuh kebencian. Nanar mata itu mengguratkan hal yang sama seperti dirinya. Wanita itu bereaksi sama seperti Dreamer, seolah bayangan, dia mengikuti setiap hal yang dilakukan Dreamer. “Apa kamu sadar apa yang kamu katakan barusan?” Suara Dreamer bergetar.
            “Apa yang mau aku katakan belum selesai. Aku sedang berpikir, kira-kira istilah apa yang tepat diperuntukkan bagi orang yang mempermasalahkan hal dangkal seperti ini. Laki-laki itu menjauh, berarti dia tidak menyukaimu. Dia… membencimu. Lalu kenapa masih mempertimbangkan untuk membicarakan hal yang sudah jelas kamu tahu akhirnya bagaimana. Akhirnya adalah kamu hanya wanita yang dicampakkan, lalu dia akan tersenyum lebar tanpa beban sambil memeluk wanita lain. Hanya kamu yang menangis. Laki-laki itu tidak akan perduli seberapa keraspun kamu menangis, karena baginya kamu tidak berarti apa-apa. Baginya kamu hanya lalat hijau bau sampah yang tak menarik. Manusia kacangan yang bisa dibuang kapan saja dia mau.”
Dreamer diam. Dadanya terasa sesak menahan desakan yang memaksa keluar. “Tapi dia orang baik.” Lirihnya kemudian.
            “Manusia punya banyak cara licik. Kamu tidak akan pernah tahu mana yang tulus dan tidak. Sikap itu hanya kamuflase untuk mengangkatmu sampai tinggi kemudian membantingmu sampai hancur. Jadi berhentilah merengek, angkat wajahmu, lihat jalan dihadapan, dengan begitu kamu tahu jika hidup tidak lagi sesulit yang kamu duga. Dengan atau tanpa dirinya, hidupmu baik-baik saja.” Suara wanita itu melembut.
            “Tapi aku tidak mau melupakannya.”
            “Kalau begitu kamu akan menjadi orang paling tolol dibanding orang-orang yang berdiri dengan kaki mengangkang, para pewaris mental feodal masa lalu.” Suara wanita itu kembali meninggi.
Dreamer tak lagi berusaha melawan suara itu. Dan ketika ia melihat ke cermin, wajah wanita sayu yang baru saja berkata sinis padanya berurai airmata. Dreamer menyentuh bulir hangat di pipi wanita itu yang juga adalah pipinya. Suara-suara nyinyir memaki itu kemudian hilang. Benar-benar hilang. Seolah Mara tak lagi disana menghasut Shidarta agar berbuat jahat.
Dreamer sedih sekaligus marah ketika ia sadar, suara itu benar. Ia harus mulai melupakan Flow. Yang menyakitkan baginya adalah ketika ia baru saja menemukan tempat pelarian, tempat bersembunyi saat ada begitu banyak hal yang ingin dia sangkal, tapi tiba-tiba tempat itu menjadi asing dan tidak lagi menimbulkan kedamaian. Tidak ada lagi yang bisa dicoba, selain pergi lalu menghilang berharap seluruhnya dilupakan.
            Dreamer memejamkan matanya, meresapi perih yang menggigit dengan taring-taring tajamnya. Namun, Dreamerpun tahu, sudah saatnya ia melupakan bayangan itu. “Selamat tinggal…. Flow.” Dan ia diam merasakan perihnya perpisahan yang dilakukan sendirian. Sejak hari ini, Flow resmi menjadi orang lain. Dreamer masih diam melihat wajahnya yang terpantul dari cermin. Ia kemudian beranjak menyalakan musik lewat speaker aktif yang tersambung ke mp3nya. Ia sengaja mendengarkan musik keras aliran rock metal sebuah band luar yang cukup terkenal. Lirik yang penuh kemarahan dan suara vocal yang tinggi juga hentakan musik yang keras, membuat Dreamer merasa lebih tegar. Ia tidak suka mendengarkan musik mendayu ketika hatinya cengeng, karena jika begitu ia akan sama cengengnya seperti lagu itu.
            Seseorang mengetuk pintu kamar Dreamer. Ia terhenyak untuk beberapa detik kemudian tak perduli. Pintu masih diketuk, tapi Dreamer masih terlalu sibuk dengan pikirannya, ia tak mau menemui dan ditemui siapapun.
            Dreamer menekan dadanya yang terasa sesak. Ia ingin berhenti merenung dan berpikir tentang Flow, tapi entah kenapa semakin ia mencoba untuk berhenti semakin semuanya terasa sulit. Rasanya seperti kau ingin mati tapi tak bisa, bahkan ketika kau menginginkannya.

No comments:

Post a Comment