Thursday, October 18, 2012

Page no. 2

Mantili, dia tidak pernah beruntung dalam urusan ini. hatinya selalu jadi korban dari setia cinta yang ia punya untuk beberapa laki-laki yang pernah datang dalam hidupnya. entah karena ia wanita buruk rupa atau terlalu sial dilahirkan dengan wajah pas-pasan. dia tak pernah bertemu dengan laki-laki yang mencintainya.

kisahnya dimulai saat Mantili masih begitu belia. bahkan saat itu ia masih pantas dipanggil anak kecil karena usianya yang baru jalan delapan tahun. kelas dua SD, saat itu Mantili melihat seorang laki-laki dengan rambut belah tengah, putih dan tinggi. ia sudah merasakan jantungnya berdebar diusianya yang belum remaja. tapi Tuhan sepertinya memberi keindahan merasakan cinta lebih awal pada Mantili. maka sejak itulah ia mulai menyukai laki-laki, tapi sayangnya laki-laki itu tak pernah tahu tentang perasaannya. 

saat SMP, ia menyukai seorang laki-laki berkacamata, gemuk dan sedikit hitam. entah apa yang membuatnya jatuh cinta pada laki-laki itu. setiap hari dia menunggu didepan kelasnya yang kebetulan bersebelahan dengan kelas Mantili. tidak ada tujuan, hanya sekedar melihat laki-laki itu sebentar dan memastikan dia datang ke sekolah, lalu Mantili pergi. ia melewati hari-hari dengan riang karena meskipun tak melihat, ia tahu laki-laki itu berada ditempat yang bisa ia datangi saat merindukannya. saat kelulusan, Mantili nekad memberi sebuah surat pada laki-laki itu. surat dengan amplop merah jambu, ditulis dengan begitu hati-hati agar terlihat indah. surat itu berisi pernyataan, tapi sayang rupanya cinta Mantili hanya sebelah tangan. laki-laki itu bahkan tak membuka amplopnya sama sekali.

kisah kembali terulang saat ia SMA. kali ini Mantili jatuh cinta pada teman sekelasnya. laki-laki berambut cepak, tidak tinggi, kulit hitam dan berjerawat. benar-benar tak ada satu pun hal yang bisa dibanggakan dari laki-laki itu sebenarnya, tapi Mantili melihatnya dengan cara berbeda. baginya laki-laki itu lebih tampan dari aktor bintang film manapun. dua tahun mereka satu kelas dan selama itu juga Mantili hanya bisa melihatnya diam-diam dari sudut ruang kelas. setiap pagi ia berdiri di depan pagar sekolah, menunggu laki-laki itu sampai datang. hatinya galau sebelum ia melihat laki-laki itu datang, lalu berubah cerah ketika ia melihat laki-laki itu berjalan melewati pagar sekolah. setiap hari baginya adalah bunga, dimana ada laki-laki itu disanalah hatinya membumbung tak tertahankan. saat kelulusan SMA Mantili berencana memberitahu laki-laki itu tentang perasaannya. kali ini ia menggunakan pesan singkat di handphone. tapi sama saja, laki-laki itu pun tak menyambutnya. cinta Mantili kembali bertepuk sebelah tangan.

beranjak dewasa. Mantili hijrah ke sebuah kota indah. ia melanjutkan sekolah disana. semuanya terasa istimewa, mengingat inilah pertama kalinya Mantili tinggal disebuah kota besar untuk pertama kalinya. menyandang status sebagai mahasiswa, setidaknya bagi sebagian orang yang tinggal di tempat terpencil menjadi mahasiswa bukan hal yang mudah, apalagi tidak semua orang mampu menjadi seperti itu.

Mantili, kembali mengulang kisah yang sama. ia jatuh cinta dengan seorang laki-laki tinggi, kurus, kulit sedikit hitam dan rambut gondrong. laki-laki itu senang memakai banyak gelang dan jaket levis kucel. tapi bagi Mantili tentu saja itu keren. karena itulah ia tak bisa melepaskan tatapannya drai laki-laki itu. awalnya mereka menjadi teman dekat, keuntungan buat Mantili karena dia bisa lebih sering dekat dengannya tanpa hars merasa canggung, meskipun sebenarnya ia canggung. begitulah cara mantili mencintai laki-laki itu, diam-diam. sampai suatu hari hal yang tak pernah terbayangkan olehnya terjadi. seorang teman, menemukan sebuah catatan tentang laki-laki itu di komputer Mantili. dan laki-laki itupun tahu tentang perasaan Mantili.
tapi tidak terjadi apa-apa. laki-laki itu bersikap dingin dan tak begitu ramah. sampai kemudian Mantili pun sadar jika kisah ini pun akan sama seperti kisah-kisah sebelumnya yang pernah dia lewati.

itulah perjalanan panjang dan melelahkan tentang kisah cinta Mantili di masa lalu. kali ini pun dia sepertinya akan mengulang hal yang sama. jatuh cinta pada laki-laki yang tidak akan membalas perasaannya. kali ini Mantili bukan lagi seorang anak berumur 8 tahun yang jatuh cinta, bukan lagi anak puber yang jatuh cinta, bukan lagi anak remaja yang jatuh cinta, bukan juga anak masa transisi yang jauh cinta. Mantili sekarang seorang wanita dewasa. bagaimanapun ia berjuang untuk membuatnya tidak terjadi. lagi.

terkadang kau hanya perlu diam untuk tahu semua hal. atau lebih baik mundur dan dikatakan pecundang. biarkan saja apa kata orang, mereka tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam, karena mereka hanya melihat di permukaan saja. Mantili berusaha menjadi seperti itu, mundur sebelum ia yakin jika perasaannya adalah cinta. ia mundur sebelum semuanya menjadi lebih kacau. tapi akankan Mantili berhasil? lihat saja.



No comments:

Post a Comment